AFIRMASI POSITIF

Sejak awal punya anak, saya dan suami bersepakat untuk selalu belajar memberikan afirmasi positif kepada Maryam. Hal ini semata karena kami ingin menunjang pertumbuhan Maryam dengan lingkungan yang baik.

Sebelumnya, apa sih Afirmasi Positif itu?

Menurut WikiHow, Afirmasi diri adalah pernyataan positif atau kalimat yang ditujukan untuk diri sendiri yang bisa mempengaruhi pikiran bawah sadar untuk membantu Anda mengembangkan persepsi yang lebih positif terhadap diri Anda sendiri.

Menurut saya, afirmasi positif ini sangat penting bagi pertumbuhan psikisnya Maryam, apalagi ia sedang berada di masa emas pertumbuhannya. Sebab pertumbuhan anak-anak akan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka, baik itu yang mereka lihat, rasakan, maupun yang mereka dengar.

Mungkin ada yang beranggapan sepele seperti,

“Ah, nanti juga anak itu akan belajar sendiri mana yang benar dan yang tidak.”

Kan itu bercanda, lebay amat sih.”

“Kita ngurus anak gak gitu gitu amat anaknya juga baik sekarang.”

Dan sederet kalimat sanggahan lainnya. Ya gapapa juga kalau saya dibilang lebay, berlebihan, sensitif, atau lain-lain. Tapi kalau si anak terbiasa mendengar kata-kata negatif yang ditujukan kepadanya lalu berdampak pada anak tsb gimana? Yang tanggung jawab di hadapan Allah orang tuanya kan. Plus yang disalahin orang tuanya juga..

Anak-anak itu ibaratnya sponge, seperti botol kosong. Mereka akan menyerap dengan sangat cepat apa yang mereka lihat, dan juga apa yang mereka dengar. Mulai dari hal-hal kecil, sampai besar. Mulai dari nada nada suara yang kita gunakan sampai kata dan kalimat yang keluar dari mulut kita. Semua akan diserap habis, dan kalau frekuensinya sering, maka akan terekam dalam memori otaknya. Suatu saat yang terekam itu akan menjadi bibit-bibit sikap dan sifatnya mereka.

Oleh karena itu, saya dan suami berusaha banget untuk selalu menggunakan kata-kata positif dalam setiap momen, sekalipun momen itu adalah momen yang tidak menyenangkan. Kami melakukan itu semua dengan harapan bahwa Maryam akan mempunyai hati dan jiwa yang positif, sabar, lemah lembut, dan mampu berkata baik.

Sebagai contoh, ketika Maryam dalam keadaan bad mood, dan kita kebetulan juga sedang berada di luar bersama teman atau keluarga, maka yang saya dan suami katakan adalah “Maryam sedang spesial”, bukan sedang rewel. Hal ini juga secara tidak langsung mengedukasi yang mendengar untuk bersikap positif menghadapi Maryam yang moodnya sedang tidak bagus. Kebayang kan kalau yang katakan pada saat itu, “tau nih, rewel banget Maryam dari tadi.”, maka orang yang mendengar juga akan menimpali dengan kalimat yang sefrekuensi. Dan lebih buruknya, kalimat-kalimat yang didengar Maryam akan masuk ke alam bawah sadarnya, menyatakan bahwa dirinya anak yang rewel. Hasilnya? Nggak usah dijelasin.

Jadi sebisaaaaa mungkin, saya dan suami stay positive in every condition. Ini juga butuh usaha banget sih.. saya dan suami juga masih belajar banget untuk istiqomah. Tapi yakin deh hasil nggak akan mengecewakan proses. Jadi ya nikmati aja.

Tapi kalau lingkungannya yang (kadang) begitu gimana?

Banyak ditemui lingkungan yang seperti ini. Kami juga tidak bisa mengatur orang lain. Kalau keluarga masih bisa diajak diskusi ringan, tapi kalau orang lain agak susah. Pernah beberapa kali, Maryam dibilang jutek, asem, nggak mau senyum, sampai dipanggil dekik. Saat itu yang berbicara seperti itu salah satu ibu-ibu di lingkungan. Saya yang sedang menggendong Maryam sebisa mungkin untuk tetap tersenyum (walaupun sebenernya pengen gosok mulutnya pake batako), dan segera pergi dari situ. Setelah masuk rumah, saya bilang kepada Maryam, “Maryam, Maryam itu anak yang spesial untuk Ummi dan Abi. Maryam istimewa. Maryam spesial. Ummi dan Abi sayang sekali dengan Maryam.”. Begitu terus saya ulang-ulang. Saya berharap kalimat itu yang masuk ke alam bawah sadarnya.

Semenjak aware dengan afirmasi positif ini saya juga selalu berkata positif kepada anak-anak lain. Saya tahu betuuuul rasanya kalau dengar kata-kata gak enak yang ditujukan untuk anak kita. Walaupun itu hanya sekedar ungkapan rewel, cerewet, dan lain-lain. Nggak enak rasanya. Jadi saya nggak mau orang lain juga merasa begitu. Sensitif ya? Hahaha. Emang kalau udah jadi orang tua mah sensian. Wkwkwkwkw.

Lagian kan dalam Islam diajarkan kalau kita nggak bisa berkata baik ya diam saja. Ini saya juga masih suka keceplosan ya.. susah ternyata :D. Tapu untuk anak, apapun akan dipelajari dan dilakukan jika itu baik. Semoga semua ikhtiar kami membuahkan hasil yang baik juga bagi anak-anak kami. Aamiin yaa robbal ‘alamin.

 

 

 

 

Advertisements

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 10: Sosialisasi

Tadi ada acara buka bersama keluarga suami. Ada banyak anggota keluarga yang hadir, termasuk kami sekeluarga.

Awalnya ketika sampai di rumah keluarga kami, Maryam hanya diam saja. Tidak mau berpindah tangan dari saya. Terlihat dari raut mukanya, bahwa ia tegang bertemu orang orang baru lagi.

Lalu datanglah keluarga lain yg membawa juga anak kecil sekitar 12 tahunan. Maryam memang suka sekali bermain dengan anak-anak walaupun usianya jauh lebih tua darinya. Ketika melihat anak tersebut datang, Maryam mulai tertawa.

Dia mau mulai berinteraksi dengan yang lain sampai akhirnya mau menyapa semua seperti biasa. Sepertinya adanya anak kecil membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Sampai acara selesai alhamdulillah Maryam bersikap baiik sekali, mau makan banyak, dan ceria.

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 9: Maryam mau dilibatkan

Pada setiap momen tertentu yang ada Maryam didalamnya dan dia mekihat apa yg kita lakukan, pasti dia ingin dilibatkan.

Contohnya ketika saya memijit Abi. Awalnya Maryam hanya melihat dan mendengar penjelasan saya kalau Abi pegal badannya. Lama kelamaan Maryam ingin juga memijit Abi. Padahal waktu itu ia tengah makan di kursi makannya.

Tapi kelihatan dari ekspresi mukanya kalau Maryam sangat senang ketika mendengar apresiasi krn sudah mau memijit.

Dikesempatan lain juga dia selalu mau dilibatkan. Banyak belajar dari hal kecil yang biasa Maryam lihat di sekitarnya, akan mengasah empati dan rasa ingin tahunya terus menerus.

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 8: Memgontrol Emosi

Akhir-akhir ini Maryam sering sekali bersedakep (apa ya bahasa Indonesianya?). Melipat kedua tangan di dada yang mengekspresikan kalau dia tidak suka. Seperti di foto yang diambil di rumah Akinya.

Maryam melakukan hal itu ketika dia mendengar larangan yang ditujukan kepadanya. Padahal larangannga tidak dilontarkan dengan kalimat marah ataupun keras/kencang, biasa saja. Tapi dia langsung menunjukkan sikap tidak sukanya.

Selain itu, Maryam juga menunjukkan sikap serupa ketika apa yang menjadi keinginannya atau apa yg ia pertahankan tidak ia dapatkan. Maryam bersedakep sambil melontarkan kata, “Ah!” beberapa kali. Padahal kami orangtua dan keluarganya tidak pernah ada mencontohkan demikian.

Namun hal ini saya lihat dari sudut pandang lain. Di mana menurut saya, sikap demikian bisa ia gunakan untuk mempertahankan apa yg menurutnya benar. Tapi masih perlu diberi pengarahan terus menerus hingga tidak salah bersikap di kemudian hari.

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 7: Bermain telepon

Di video ini Maryam lagi main telepon-teleponan dengan menggunakan kertas. Saya suka sekali kalau melihat Maryam main telepon-teleponan. Ini memperlihatkan daya imajinasinya yang berjalan, juga kemampuan verbalnya yg walaupun masih tidak jelas dia berkata apa, tapi terdengar banyak kata yg diucapkan. Intonasi suaranya pu ada, berbeda beda pada beberapa kata.

Dan kemampuan verbal adalah salah satu kelebihan yang saya lihat ada pada diri Maryam. Tugas saya hanya tinggal terus menerus diasah agar hanya kata kaya baik dan bermanfaat yang keluar dari mulutnya.

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 6: Belajar sikat gigi

Belajar hal baru adalah sesuatu yang menyenangkan untuk Maryam. Seperti ketika belajar sikat gigi.

Saya termasuk yang telat mengajarkan Maryam sikat gigi dengan menggunakan sikat gigi. Sebelumnya saya membersihkan gigi Maryam dengan kain, digosok-gosok dengan tangan saya.

Tapi belakangan, Maryam sering narik narik bajunya untuk membersihkan giginya. Jadi beli sikat gigi tidak saya tunda tunda lagi.

Setelah punya, dia sangat gampang diberitahu tentang bagaimana menyikat giginya. Tidak sulit juga memintanya untuk sikat gigi setelah makan.

Belajar hal baru yang dia sukai menjadi lebih mudah. Semoga tidak ada drama dalam dunia persikatgigian ini 😂.

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 5: Belajar Mengingat

Anak kecil itu bagaikan sponge! Yap. Mereka akan mudah menyerap apapun disekitarnya dalam sekejap. Termasuk Maryam. Beberapa kali Maryam mengikuti hal hal yang tidak secara langsung saya ajarkan. Artinya dia hanya memperhatikan, mengingatnya, dan diwaktu berbeda ia mempraktekkannya.

Maka hal ini saya manfaatkan untuk mempelajari hal hal yang baik, yang memang pas bagi stimulasi otaknya untuk merangsang terus daya ingat Maryam.

Seperti tadi malam, Maryam tertarik sekali dengan gambar beberapa judul buku yang ada di cover belakang buku yang sedang ia baca. Temanya binatang, namun judul dan hewannya bermacam-macam masing-masing buku. Ada ular, pak Tani dan kancil, macan, monyet, serigala, semut, dan lain-lain.

Saya memberitahu Maryam masing-masing hewan yang ada di setiap gambar. Sambil menunjuk, saya menyebutkan nama hewannya. Setiap selesai menyebutkan satu nama hewan, saya selalu meminta Maryam untuk menunjukknya kembali secara berulang-ulang. Begitu seterusnya hingga gambar yang terakhir.

Setelah selesai semua diperkenalkan, saya bertanya kembali letak masing-masing hewannya. Tak disangka Maryam hafal semuanya. Ia bisa menunjuk hewan yang saya sebutkan. Terlihat mukanya yang fokus dan jarinya yang siap untuk menunjuk. Semua hewan yang saya sebutkan berhasil ia tunjukkan dengan tepat.

Ternyata secepat itu Maryam menghafal. Kebayang kalau Maryam melihat hal yang tidak baik untuknya?

Semoga Allah selalu menjauhkan Maryam dari hal hal buruk.

Anyway, saya jadi tambah semangat untuk terus mengajarkan Maryam berbagai macam hal di dunia ini. 😍

[Setiap Anak adalah Bintang] Day 4: walking walking walking

Ketika Maryam sudah bisa berjalan, ini juga kelebihan kan? Hehehe.

Maryam sudah mulai bisa berjalan sekitar 4-12 langkah tanpa berpegangan. Berdiri dari duduk pun sudah biaa sendiri. Alhamdulillah, 16 bulan berjalan.

Telat? Tidak dong. Kalau membandingkannya dengan anak lain yang usia 9 bulan sudah bisa berjalan, tentu bisa dibilang telat. Tapi setiap anak itu spesial. Mereka punya timeline nya masing-masing.

Kalau terus melihat anak lain pasti nggak akan selesai. Jadi saya hanya fokus terhadap Maryam. She’s my special.

Ketika dia sudah merasa mampu berjalan, maka dia akan berjalan. Seperti sekarang. Dulu sebelum ini, saya terus stimulasi Maryam untuk berjalan. Mulai dari titah, menuntun, dorong kursi bakso, dorong kursi besar, dorong kontainer, merambat di tembok, lemari, dan lain-lain. Alhamdulillah semoga itu memudahkan Maryam dalam belajar.

Dalam hal ini, saya melihat kegigihan Maryam dalam belajar berjalan. Walaupun terjatuh terus menerus, dia akan bangun lagi dengan semangat, bahkan sambil tertawa. Dia juga terlihat sangat senang ketika mengetahui dirinya bisa berjalan 😀.

Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga milestone ini. Semoga Allah selalu memudahkan semua prosesnya. Aamiin yaa robbal ‘alamin.

[Setiap Anak Adalah Bintang] Day 2: I’m the leader!

Setiap manusia adalah pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Saya rasa ini salah satu fitrah yang di miliki setiap anak, termasuk Maryam.

Fitrah ini ditunjukkan Maryam melalui kesukaannya mengatur. Like she knows whag she wants. Contohnya, ketika Maryam ingin jalan jalan keluar, maka ia akan menarik tangan orang yang ia inginkan untuk menemaninya jalan keluar. Setelah itu, ia juga akan menunjuk sandal yang akan dipakai orang tersebut, lalu mencondongkan badannya kearah yang dia mau.

Di kesempatan lain, ketika Maryam merasa mengantuk dan ingin tidur, ia akan protes terhadap orang orang (ummi-abi) yang masih berisik dengan suara suara yg mengganggu proses tidurnya.

Masih banyak sih contohnya yang lain yang menunjukkan sifatnga yg suka mengatur. Saya menganggap ini suatu kelebihan Maryam krn dia tau yanh dia mau, dan dia tau bagaimana caranya mewujudkannya.

Jika terus menerus diberi arahan, maka hal ini akan menjadi hal positif yang menunjang jiwa kepemimpinannya.