[Komunikasi Produktif] Day 10: Mengajak Maryam melakukan sesuatu (Cerita 4)

Beberapa hari ini saya terkena flu, imbasnya Maryam yang sehari-hari bersama saya pun tertular flu.

Hidungnya meler, penuh dengan lendir hidung. Dari awal Maryam memiliki tanda-tanda flu saya sudah langsung beraksi. Mulai dari menyimpan irisan bawang plus minyak telon di dalam kamar, hingga air panas plus minyak kayu putih.

Malamnya flu dan pilek Maryam masih ada. Ia kelihatan sulit tidur karena mampet hidugnya. Lama kelamaan Maryam pun menangis dengan kencang.

Mungkin karena ada tambahan menangis jadi menyebabkan hidungnya tambah mampet. Jadilah menangisnya semakin kencang dan sulit untuk diberhentikan. 

Karena sudah malam, kami khawatir tangis membahanan Maryam mengganggu tetangga, maka kami mengajaknya untuk jalan jalan malam naik mobil. Di mobil Marym masih terus nangis. Akhirnya kami berhenti di depan patung kuda.

Di situ kami turun dan mendekati patung. Tangisnya mulai mereda. Kesempatan itu saya gunakan untuk berkomunikasi dengannya.

Maryam, maryam pilek ya? Hidungnya mampet ya nak? Sabar ya sayang.. Allah sayang sama Maryam. 

Tadi udah ummi kasih bawang sama minyak telon badannya, semoga hangat yaa.

Nangisnya berhenti dulu ya, Nak. Supaya hilang mampetnya. Nanti jadi bisa tidur.. pasti Maryam mengantuk kan?

Yuk nanti kita bobo yaa..

Beberapa saat setelahnya Maryam pun tertidur. Alhamdulillah… 

Advertisements

[Komunikasi Produktif] Day 9: Meminta Maryam melakukan sesuatu (Cerita 3)

Saat sedang makan jeruk, Maryam selalu membuang ampas jeruknya ke lantai. Melihat hal itu saya mulai menyampaikan kepada Maryam bahwa makanan yang sudah tidak di makan tidak dibuang ke lantai. Pelan pelaaan sekali.

Maryam, kalau sudah selesai menghisap air jeruknya, ampasnya diberikan ke Ummi ya biar Ummi buang. Kalau Maryam buang ke lantai itu tidak baik, sayang. Berikan ke Ummi yaa. Biar bersih..

Aslinya saya ucapkan itu berulang-ulang selama proses makan jeruk belum selesai. Alhamdulillah sedikit-sedikit ia mengerti.


[Komunikasi Produktif] Day 8: Aki, akan tidak boleh dipaksa.

Kondisi Marya masih agak hangat. Selain cranky, Maryam juga tidak mau makan. Mau sih sedikit sekali. 

Melihat Maryam yang lemas dan tidak mau makan, Akinya, yaitu ayah saya, bilang,

Kak, kalau orang dulu kalau anaknya nggak mau makan mah dipaksa. Dicekokin gitu.

Tau arah pembicaraan kemana, saya pun segera menangkalnya hehe.

Saya : Makan janga dipaksa yah, gak baik.

Ayah saya : Biar kuat Kak Maryamnya.

Well, saya adalah tipe orang tua yang tidak akan memaksa anak untuk apapun termasuk makan. Dan bagi saya, makan harus menjadi salah satu kegiatan yang enjoyable dan penuh pembelajaran. 

Jika anak tidak mau makan, pasti ada sebabnya dan yang harus dilakukan orang tua adalah menelusuri sebab dan berkreasi dengan berbagai cara menyenangkan untuk makan. 

Saya : Nggak apa-apa Maryam nggak mau makan sekarang, mungkin lidahnya pahit. Kalau makan sambil dicekoki gitu nanti malah bikin Maryam trauma, akhirnya dia nggak suka makan. Kita juga harus lihat dari sisi psikologis, Yah..

Mendengar jawaban saya, ayah saya pun mengiyakan, tidak terus memaksakan. Alhamdulillah..

Semoga Maryam lekas lahap kembali makannya. Saya pun sebenarnya ingin Maryam lahap makan, semoga segera..

[Komunikasi Produktif] Day 7: Lebih berhati-hati lagi, Abi.

Pagi hari Maryam sudah bangun, sekaligus membangunkan Ummi dan Abinya. Celoteh dan ocehan yang masih abstrak sudah ia keluarkan membuat suasana pagi semakin ceria. 

Seperti biasa, Ummi akan sibuk pada pagi hari dengan pekerjaan domestiknya. Mulai dari mencuci, menyiapkan sarapan, memandikan Maryam, sampai membersikan rumah. Kalau Abi kebagian menjaga Maryam selama Ummi sibuk 😁.

Setelah semua beres barulah saya bisa mandi. Ketika akan selesai, dari kamar mandi saya mendengar suara tangisan Maryam yang sangat kencang. Rupanya Maryam terjatuh dari kasur. 

Ketika keluar dr kamar mandi saya langsung menghampiri Maryam. Tapi tangisannya tidak kunjung berhenti. Entah masih merasakan sakit atau Maryam kesal, atau mengantuk. Disusui pun masih menangis. Tangisan yang tidak biasa itu membuat saya cemas.

Pelan saya bertanya kepada Abi. Sebenarnya saya sudah mau marah karena ia lalai hingga Maryam seperti itu. Tapi saya tahan karena jika saya marah tidak akan ada yang tercapai.

Saya : Bi, tadi Maryam bagaimana posisi jatuhnya? Kok nangisnya lama. Memangnya Abi nggak lihat Maryam tadi?

Abi : Tadi aku lagi di dapur. Maryam jatuh dengan posisi setengah badan ada di karpet dan dari pinggang kebawah ada di kasur. 

Saya : Terbentu nggak?

Abi : Nggak tahu, Mi. Aku gak lihat posisi jatuhnya.

Saya : Nanti kalau Abi lagi nggak bisa pegang Maryam, taruh saja Maryam di karpet. Kalau di kasur resiko jatuh seperti tadi.. 

Abi : Iya, maafin aku ya. Aku lalai 😞

Saya : Iya bi, lain kali hati-hati ya..

Lalu kami pun berangkat dengan Maryam yang masih menangis hingga tertidur. Sekarang badannya agak hangat dan dia agak cranky seharian. Semoga bukan efek dari jatuhnya, melaikan mau tambah pintar.

[Komunikasi Produktif] Day 6: Meminta Maryam Melakukan Sesuatu (Cerita 2)

Pagi tadi selepas sarapan kami melihat Marya memainkam plastik berisi kue bolu. Kemudian saya memintanya dengan lembut dan jelas. 

Maryam sayang, Ummi mau dong kuenya..Boleh?

Setelah itu kuenya diberikan kepada saya. Kemudian abinya yang meminta kue kepada Maryam sambil mengulurkan tangan.

Abi: Maryam, buat Abi mana kuenya?

Mendengar dan melihat body language Abinya, Maryam langsung mengulurkan tangan ke arah saya yang masih memegang kue. Dia mau ambil kembali kuenya. Setelah saya berikan lalu diberikannya kue itu kepada Abinya. Lalu giliran saya yang meminta lagi kue kepada Maryam. Maryam pun melakukan hal yang sama, meminta kue abi dan memberikannya kepada saya. Hal itu dilakukan berulanh kali seperti di video 😁

Saya rasa Maryam mulai bertambah bisa membaca body language dan mengerti apa yang kita sampaikan padanya. 

[Komunikasi Produktif] Day 5: Meminta Maryam melakukan sesuatu (Cerita 1)

Hari ini kami ingin mengajak Maryam berekreasi. Rencananya kami mau pergi ke Dunia Fantasi (Dufan). Walaupun Maryam masih 10 bulan which is tidak akan bisa banyak menaiki wahana, tapi tidak apa. Di sana Maryam bisa melihat dan belajar banyak hal-hal baru. Seruuuu sepertinyaa!

Namun sebelum berangkat dan selama di perjalanan saya selalu sounding ke Maryam bahwa kita mau pergi ke Dufan. Saya juga mengingatkannya untuk tidak rewel dan menangis selama di sana.

Maryam, kita sekarang mau jalan-jalan ke Dufan. Di sana banyak mainan. Maryam tidak rewel ya, tidak menangis juga.. Kita kan mau happy-happy jadi tidak rewel dan menangis.

Dan benar saja, selama disana Maryam saaaangat happy. Walaupun banyak bertemu orang baru juga hal dan barang baru, tapi dia tetap happy. Alhamdulillah…😆

[Komunikasi Produktif] Day 4: No phone while with Maryam

Akhir-akhir ini Maryam sering merebut hp Ummi atau Abi ketika sedang dipakai. Dan kalau tidak diberikan maka dia akan protes.

Teringat di kelas online Bunsay ada beberapa bunda yang bercerita tentang anaknya yang keranjingan hp. Demi menghindari hal tersebut saya membuat kesepakatan dengan suami 

Saya : Bi banyak yang ngeluh anaknya candu HP. Kita bikin kesepakatan yuk bi.

Suami : Kesepakatan apa?

Saya : Tidak main HO ketika membersaMai Maryam. Gimana?

Suami : Boleh, aku setuju. Deal ya. Main HP kalau urgent atau ketika ada japrian.

Saya : deal.

Semoga awal yang baik. 

[Komunikasi Produktif] Day 3: Kala letih melanda

Kemarin saya dan suami agak cekcok karena suatu hal yang sepele. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau kami berkomunikasi dengan benar. Tapi keadaan tubuh yang sudah sangat lelah memendekkam sumbu nalar kami masing-masing. Tidak ada dari kami yang mau mengalah saat itu. Ujungnya kami saling mendiamkan. 

Lalu seiring waktu berjalan keadaan mulai melunak. Kami mulai saling bicara dan minta maaf. Moment itu saya gunakan untuk berkomprod untuk clear and clarify.

Saya : Bi, maaf ya aku marah-marah. Tapi kamu emang nyebelin. 

Melihat ekspresinya yang hanya senyum simpul, saya pun memperbaik kata-kata saya.

Saya : Maaf ya Bi, eku emosi.

Abi : Iya gapapa, maaf juga ya..

Saya : Iya Bi. Gapapa.. Tapi Bi, besok-besok kalau mau menyampaikan sesuatu atau menyuruh aku do something, usahakan Tanya aku dulu yaa apakah aku bersedia, bisa atau tidak. Sebaiknya tidak membuat statement tapi pertanyaan dulu. Jadi kamu bisa tau kondisi aku. Semuanya kan harus kompromi..

Abi : iya, maaf ya.. Kemarin aku capek banget jadi keluar ego aku. Keluar juga emosinya.

Saya : Kalau gitu jadi gak ketemu Bi maksud yang mau disampaikan apa.. Kamu capek, kesel, akunya jadi ikutan kesel..

Abi : iya maaf yaaa..

Komunikasi. Hanya butuh itu. Ditambah sedikit kesabaran dan nalar yang panjang. Maka pesan yang hendak kita sampaikan akan diterima dengan bail oleh laws bicata.

Well, kami pun masih harus belajar Banyak lagi tentang itu semua. Bukan hanya untuk kami, tapi juga demi anak-anak kami. Semangat, Ganesha’s Team!

[Komunikasi Produktif] Day 2: Maryam mau makan!

Alhamdulillah akhirnya Maryam mau makan juga. Setelah GTM beberapa hari, plus membuat hati umminya ketar-ketir, finally Maryam makan makanan berat yang disediakan.

Pagi-pagi sekali ketika bangun tidur saya bertekad bahwa today no more emotion and eat happily! Setelah kemarin gagal mengajak Maryam makan dan berakhir drama, hari ini saya mantapkan untuk Komunikasi produktif dengan Maryam dalam mengajaknya makan.

Sebelum Maryam bangun saya pergi ke pakde sayur di komplek sambil memikirkan menu makanan yang kira-kira tidak ditolak Maryam. Berhubung saat ini sedang program memperbanyak protein maka saya putuskan untuk membeli ikan patin. 

Rencananya ikan patinnya hanya akan saya goreng dengan balur bumbu-bumbu aromatik yang menggoda selera. Ketika memasak saya ajak Maryam ke dapur sambil mengajaknya berkomunikasi.

Sayang, hari ini Ummi masak ikan patin goreng. Pasti enak, Maryam pasti suka. Ummi aja suka bangeeet. Nanti kita makan sama-sama ya!

Saat itu Maryam terlihat antusias melihat kegiatan saya di dapur. 

Masak selesai dan waktu sarapan pun tiba. Sambil menyiapkan makanan lagi-lagi saya ajak ber-komprod ria Maryam untuk menaikkan mood makannya.

Maryam cantiik, kita sarapaj yuuuk. Pakai ikan patin goreng yang lezaaat. Sama abi juga kita sarapan bareng-bareng.

Saya pun mengambil porsi makan Maryam dan menyuapinya. Tapiii percobaan pertama gagal. Maryam geleng-geleng sambil mengatupkan mulut. Kembali saya berfikir keras bagaimana caranya agar Maryam mau makan. Akhirnya saya tawari Maryam untuk makan sendiri. 

Maryam mau makan sendiri ya? Gak mau disuapi Ummi? Yasudah..kalau begitu ini yaa makanan Maryam. Yuk sama sama makannya.

Melihat makanannya sudah saya letakkan di depannya, perlahan tangan mungilnya mulai mengambil sejumput nasi dan ikan yang memang sudah saya bulat-bulatkan kecil lalu dimasukkan ke mulutnya. Melihat itu saya senaaaaaang sekali. Alhamdulillah akhirnya Maryam mau makan. 

Ternyata Maryam maunya makan sendiri, tidak mau disuapi. Sesi sarapan Kali itu berlangsung hangat sampai selesai. 

No more drama, no more cry while eating. Semoga Maryam menjadi Anak happy eater! Aamiin ya robbal ‘alamin.

[Komunikasi Produktif] Day 1: GAGAL

#HariKe1

#GameLevel1

#Tantangan10Hari

#KuliahBunsayIIP

#KomunikasiProduktif
Bismillah.

Judulnya memilukan ya. Iya, Komprod saya di hari pertama ini gagal. Kenapa? Nanti saya ceritakan. 

Dan kenapa yang saya tulis yang gagal? Karena dibagian gagal ini saya bisa belajar dan mengambil pelajaran. Belajar tidak melulu soal hasil, bukan? Proses juga berperan penting dalam pembelajaran. And here’s the story…..

Pentingnya penguasaan diri untuk produktif dalam berkomunikasi.

Setelah ditantang di game level 1 kelas bunsay, saya sangat bersemangat menjalankan tantangan ini. Yaitu berkomunikasi produktif dengan keluarga, terutama Anak. Terbayang apa yang akan saya bicarakan dengan Maryam (walaupun masih 10 bulan tapi saya merasa dia bisa mengerti apa yang saya katakan. Bayi itu genius lho!). Pun juga dengan suami, wah, harus bener-bener berusaha, karena kadang saya suka tidak sabaran hehe.

Jadi ceritanya, sudah beberapa hari ini Maryam menunjukkan tanda-tanda GTM (Gerakan Tutup Mulut) ketika makan. Makan nasi nggak mau, sayur juga, buah sedikit. Makan sendiri dibejek-bejek, disuapi geleng-geleng sambil menutup rapat bibirnya. Huft…saya pusing. 

Setiap hari saya memikirkan apa yang akan Maryam makan hari itu. Kadang saya beli bubur, kadang juga masak sendiri. Tapi kalau sudah saatnya makan dan Maryam menolak, patah hati rasanya.

Belum lagi banyak perkataan dan komentar miring tentang tubuh mungilnya Maryam. Kurus lah, kecil, kurang berat badannya, kurang makannya, jadilah saya tambah stress. Hingga akhirnya badai GTM itu datang. Maryam tidak mau makan.

Saya yang kondisinya sudah Banyak kepikiran dengan issue ini, jadi tambah sedih karena dia beneran gak mau makan. Kalau sebelumnya masih tidak terlalu sedih lah ya karena anaknya masih mau makan. Sekaranh enggakk… 

Setiap waktu makan tiba, saya selalu sounding kepada Maryam,

Maryam sayang, kita makan yuk… Sekarang Ummi masak sayur bayam dan ati kesukaan Maryam. Dimakan yaaa…

Saya tawarkan makanan kepada Maryam sambil tersenyum dan suara lembut. Ketika dia melihat piring makanannya sudah didepan mata, dia semangat. Tapi ketika disuapi dia hanya mencicipi sedikiiit sekali. Setelah itu geleng-geleng kekanan dan kekiri. Saya rayu kemudian dengan jurus rayuan saya..

Maryam ayo makan.. Kalau tidak dimakan nanti Maryam lemes. Ayo makan supaya sehat, cerdas, kuat..

Begitu kira-kira rayuan saya. Tapi tetap saja tidak mempan. Maryam masih mogok makan. Hingga akhirnya hari ini, emosi saya memuncak. Entah karena terlalu khawatir atau memang jengkel karena terus tidak mau makan, saya akhirnya berbicara dengan nada tinggi.

Kenapa sih? Ayo makan Maryaaaam, ini makanannya dimakan!

Dan ketika Maryam tetap menutup mulut, akhirnya saya berkata,

Yasudah! Kalau Maryam gak makan. Gapapa, ummi taruh lagi makanannya.

Diiringi dengan muka kesel dan bahasa tubuh yang menunjukkan kalau saya sedang marah. Alhasil? Maryam rewel :'(.

Maryam tau umminya marah, kesel. Jadi mungkin dia merasa tidak nyaman juga. Jadilah dia teriak-teriak, sedikit-sedikit nangis. Disitu saya menyadari bahwa saya yang salah. Saya tidak bisa mengendalikan diri dan emosi saya.

Padahal saya tau betul, jika kitanya saja tidak menyampaikan dengan benar apa maksud kita, makan lawan bicara tidak akan menangkap apa yang ingin kita sampaikan. 

Saya berfikir, kenapa saya tidak mencari dulu tahu kenapa Maryam tidak mau makan. Mungkin mau tumbuh Gigi? Kenyang? Atau alasan lainnya. Dan lagi dalam cara saya mengajaknya makan masih terdapat Nada ancaman. Itu jg menjadi salah satu faktor penyebab tidak sampainya apa yg saya komunikasikan.

Sekarang Maryam tidur setelah nangis sebentar. Melihatnya tidur saya menjadi tambah merasa bersalah. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kami berdua yang terhitung masih menjadi ibu Baru dan Anak baru. 

Semangat belajar terus dan terus!