[Melatih Kemandirian Maryam] Day 7: Mommy cant hold it

Memutuskan untuk berBLW ria sebagai metode mpasi maryam artinya saya harus punya banyak stok sabar. Membiarkan Maryam makan sendiri artinya yaaa let her be her! 

Ini yang kadang masih sulit untuk saya. Saya sebenarnya yakin Maryam akan makan sesuai dengan kebutuhannya, dan akan berhenti setelah merasa cukup. Tapi terkadang, saya masih kurang pede. Alhasil banyak intervensi dari saya saat Maryam makan. 

Seperti hari ini, saya masih juga kurang sabar sehingga sesuap dua suap masih saya berikan, hand feeding. Ini jelas mengganggu proses belajar Maryam. Ummi, control your self and trust her!

Hari ini Maryam makan dengan anteng. Tumis labu siam dan telur (tetap usaha memberikan telur) lahap dimakan menyisakan telurnya ๐Ÿ˜…. Makannya pun duduk tidak sambil main atau merangkak. Fokus. Sebenarnya makan sambil duduk mesti terus dilatih krn kadang Maryam makan sambil merangkak setelah mengambil makanannya. Overall, today she was happy eating. Hanya sedikit gangguan dari saya ketika menyuapi ๐Ÿ˜.
Semangat teruuus!๐Ÿ˜™

Advertisements

[Melatih Kemandirian Maryam] Day 6: She knows what she wants.

Semenjak Maryam mulai Mpasi, saya menjadikan kegiatan makan bukan hanya kegiatan untuk mengisi perut tapi juga kegiatan yg penuh pembelajaran baik itu saya maupun Maryam. Selain itu, prinsip saya, makan adalah kegiatan yang harus menyenangkan. Tidak ada paksaan dan no tipu daya supaya mangap ๐Ÿšซ. Dan BLW ini saya rasa paling cocok untuk saya dan Maryam.

Melalui BLW saya jadi tau preferensi rasa dan jenis makanan yang Maryam suka maupun tidak suka, yang sedang ingin maupun tidak ingin dimakan. Seperti hari ini. Untuk makan siang saya menyiapkan nasi beberapa gundu, ati ayam, dan tumis bayam telur untuk Maryam. Saya juga menambahkan satu buah cabai merah sebagai bumbu aromatik tambahan selain duo bawang. Sekalian mau lihat reaksinya terhadap cabai ๐Ÿ˜

Ketika saya tawarkan makanannya, awal Maryam mengambil nasi hanya dua gundu. Setelah itu ia mengambil bayam di tumisan, menyisakan telur yang tak tersentuh sama sekali. Tak lupa ati ayamnya ikut dihabiskan seperti bayam yang habis tak bersisa.

Rupanya Maryam masih agak enggan untuk makan telur. Memang saya perhatikan Maryam seperti kurang suka dgn telur. Direbus, dikukus, dibuat kue kukus, didadar, diceplok, belum ada yg dimakan selahap makan bayam. 

Dan rupanya hari ini Maryam sedang sedikit makan nasi, padahal biasanya suka sekali dengan nasi putih. Mungkin memang sedang seperti itu maunya. 

Terhadap rasa agak pedas, tidak ada reaksi kepedasan. Maryam tetap lahap. Berarti aman dengan satu cabai ๐Ÿ˜™ 

Kesimpulan dari proses belajar makan hari ini:

๐Ÿฐ Sedang tidak onfire dengan nasi

๐Ÿฐ She always loves spinach!

๐Ÿฐ Satu cabai is ok ๐Ÿ‘Œ

๐Ÿฐ Masih belum mau telur, keep trying! 
Alhamdulillah, semoga besok dan selanjutnya selalu dimudahkan Allah. Happy eating!

hujan November..

when rain starts to fall..
when rain starts to fall..

Halo November.. Sudah satu tahun kita tidak bertemu. Hujan November pun sudah satu tahun tidak menyapa..

Tahun lalu, kau datang bersama dengan debaran hati yang menggebu.. menanti tanggal dan hari berikutnya. Oh tidak, bahkan aku berdebar hanya untuk menanti detik dan menit berikutnya..

Hujan pun mulai datang bersahutan dengan petir.. Hujan datang banyak. Banyak sekali. Aku dan hatiku menjadi sedikit khawatir. Hujan mungkin akan ikut datang mengiringi kebahagiaanku nanti? Ah.. saat itu, aku harap hujan hanya datang sebelumnya saja.

Hujan, kau selalu datang membawa keberkahan. Seperti kata Tuhan, do’a siapa yang akan tertolak ketika hujan? Tuhan pun membuka pintu-pintu harapanย ketika kau turun.

Hujan, tahun lalu kau datang bersama dengan berbagai keberkahan. Padaku. Pada keluargaku. Padanya. Pada keluarganya. Pada kami. Hujan, ridho-Nya telah mengaliri semua berkah kala itu.

Hujan, tahun lalu aku hanya menikmatinya sendiri saja dari jendela kamar yang gelap. Dinginnya pun hanya bisa kurasakan sendiri.. Tapi kau selalu bisa membawa senyum bersama dengan air-air yang turun.

Hujan, tahun lalu kau tetap turun ketika hatiku tak lagi separuh. Kau tidak pernah nampak cemburu. Bahkan kau berbahagia, memberikan kami kesempatan lebih banyak lagi untuk berdo’a dan bersyukur atas genapnya hati kami.

Hujan, tahun lalu lengkap lah kebahagiaan kami. Alhamdulillah.

November kembali menyapa. Dengan mataharinya yang sayup-sayup bersinar ketika pagi. Dengan semilir anginnya yang lembut menyentuh kulit. Dan dengan kau kembali turun di sore hari.

Hujan, kau datang lagi. Aku bertanya-tanya. Berkah apalagi yang mengiringi kedatanganmu kali ini? Aku senang sekali. Kau datang lagi.

Hujan, tahukah kau? Bukan aku saja yang menantimu. Hampir semua orang di sini menantimu.ย Tanah hampir-hampir kehabisan stok air peninggalanmu setahun lalu, Hujan.

Hujan, selalu ada senyum yang muncul ketika kau turun. Pintu-pintu harapan kembali terbuka lebar. Allah siap mendengar dan mengabulkan do’a kami bersamaan dengan tetesan air yang jatuh ke bumi.

Hujan, tahun ini kami berdo’a kepada Allah. Kami sangat senang akan genapnya hati kami. Setengah menjadi satu. Tapi satu belumlah bisa memenuhi ruang hati kami. Hujan, kau turun. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan kepada kami berkah yang sangat kami nantikan. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan hak-Nya kepada kami. Hujan, kami berdo’a semoga di mata Allah, kami sudah pantas mendapatkan titipan itu.

Hujan, semoga do’a kami sampai ke pintu-pintu harapan yang tengah terbuka ketika kau turun. Semoga Allah ridho mengabulkannya. Menggenapan hati yang sudah genap, hingga memenuhi ruang hati kami yang rindu. Ya, Hujan, kami rindu. Kami rindu padamu, Hujan. Pada-Nya. Dan pada titipan-Nya.

Hujan, datanglah.. Aku ingin berdo’a..