Baby Blues

Sebelum hamil, yang ada di pikiran saya adalah bagaimana menyiapkan kehamilan dan kelahiran dengan sangat baik. Ketika itu saya sibuk ikut kelas kehamilan dan kelahiran Amani Birth di Depok satu minggu sekali. Banyak sekali ilmu tentang hamil dan melahirkan secara alami yang saya ketika mendengarnya tuh ber-ooh-ooh ria. Ternyata hamil itu gak sekedar melendung! Melahirkan gak sekedar ngeden! Semua ada ilmunya yang kalau kita tidak tahu, maka habislah. Maksudnya maka kita hanya akan menjadi bahan objek orang lain. Well, bagian ini akan dibahas nanti ya hehe.

Alhamdulillah sekarang anak saya sudah berusia 1.5 bulan terhitung sejak tanggal kelahirannya 29 Desember 2016 lalu. Alhamdulillah dengan proses alami yang saaaangat enak. Lagi-lagi ini akan saya ceritakan nanti hihi :D.

Ketika hamil, memang saya hanya sibuk mengisi otak saya dengan ilmu kehamilan dan kelahiran. Bagaimana mencapai nutrisi maksimal bagi saya dan calon bayi saya, bagaimana olahraga yang aman bagi ibu hamil, apa saja pantangannya, doa-doanya, kegiatan penunjang kemudahan kelahiran, melahirkan secara islami, dan berbagai tetek bengek lainnya tentang kehamilan dan kelahiran. Waktu itu saya  merasa saya sudah cukup siap menyambut bayi saya. Ilmu yang saya dapatkan ketika hamil insya Allah sudah saya lakukan hampir semuanya. Tapi saya meleset. Ada satu lagi yang tidak saya persiapkan ketika itu. Yaitu mempersiapkan mental menjadi seorang ibu.

Karena ternyata menjadi ibu itu tidaklah  mudah!

Saya menjadi teringat kata-kata beberapa rekan saya ketika dulu. Guru jahit saya suatu waktu pernah berkata, “Memangnya punya anak itu gampang?”. Saya yang ketika itu sedang dalam proses penantian hamil pun heran, bertanya dalam hati bukankah punya anak itu seuatu hal yang saaaaangat membahagiakan?

Di lain waktu guru saya di Depok juga berkata yang intinya lebih suka ketika anak masih dalam kandungan. Nah, saya yang ketika itu sedang dalam proses penantian kelahiran pun menjadi heran kembali, bukankah lahirnya anak adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu?

Ketika Maryam telah lahir dan dibawa pulang ke rumah, barulah saya (yang masih labil hormonnya) merasakan hal yang sama seperti kata guru-guru saya bilang. Saya tidak pernah menyiapkan diri dan mental sebagai ibu. Tidak pernah membekali diri dengan ilmu mengurus bayi. Tidak pernah sama sekali. Maka ketika itu saya kaget secara psikologis.

Menjadi ibu (baru) artinya kita harus menyiapkan tenaga dua kali lebih banyak untuk berbagai aktifitas dibanding sebelumnya. Ketika Maryam lahir dan sudah ada di rumah, Maryam yang masih berusia dua hari pun menyambut kepulangannya dengan pesta “begadang” :D. Ya, Maryam minta mimi susu sepanjang malam. Kalau Maryam di taro di tempat tidur, dia melek dan nangis. Gendong lagi dong ya kasih ASI supaya gak nangis. Dan hal itu berlangsung hingga menjelang pagi baru saya bisa tidur. Lelap? Tidak hehe. Karena Maryam bangun setelah sejam tidur hahahaha.

Belum lagi acara ganti popok yang waktu awal-awal terjadi hampir setiap 1-2 jam sekali. hihi. Produktif sekali kamu, Nak :). Badan saya yang masih sakit setelah melahirkan dan efek jahitan pun terasa remuuuukkk.

Itu baru drama per-begadangan. Sekarang kita beralih ke drama persusuan :D. Namanya juga ibu baru yes, kirain saya menyusui itu ya tinggal kasih payudara ke mulut bayi trus bayi tinga sedot deh dengan senangnya sampai kenyang. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pu*ing payudara saya saat itu leceeeet. Luka. Belah. Berdarah. Yang namanya luka ya biasanya harus didiemin, jauh-jauh deh dari sentuh menyentuh di bagian luka itu. Tapi ini kan yang luka bagian yang hampir setiap dua jam sekali harus diberikan kepada bayi saya untuk memberi ASI. Kebayang sakitnya gimana? 😀

Bermacam pikiran menghinggapi saya waktu itu. Apa pakai dot aja ya. Pompa aja kali ya ASInya. Berapa lamaaa harus kayak ginii?!

Stress karena cadan super lelah, begadang, sakit payudara, sakit jahitan. Di atas itu semua jangan salah, pekerjaan rumah tetap setia menunggu loh. Jadi bangun mesti tetep pagi, rumah mesti tetep bersih dan wangi, pakaian juga harus dicuci, dan lain-lain.

Belum lagi banyaknya tamu yang datang ke rumah menengok dedek bayi, yang artinya kita harus siap selalu menerima tamu.

Memang sih ada suami yang siap sedia membantu tugas tugas di rumah, ada orang tua yang selalu datang setiap harinya untuk membantu segala hal, tapi tetaplah segala letih masih sangat terasa.

Hal-hal tersebut yang mengganggu psikologis saya sedikit. Ditambah hormon yang masih belum stabil setelah melahirkan membuat saya menjadi sangaaaaaaat apa ya, lemah? Sedih? Stress? Capek? Semuanya betul.

Setiap suami saya hendak berangkat kerja, mata saya langsung berkaca-kaca. “Jangan kerja..”, itu yang selalu saya bilang ke suami. Soalnya saya selalu merasa kuat ketika ada suami. Ketika bayis saya menangis, tak jarang saya ikut nangis pulak. Haha. Bahkan saya selalu rewel Watsap suami saya sepanjang hari, “Pulang jam berapa?”. Atau Whatsapp ibu saya, “Kapan kesini bu?”. Karena saya merasa harus ada temannya. Saya waktu itu merasa gak kuat kalau sendirian. Kalaupun masih sendiri seharian, maka ketika sore saya pasti nangis. hahhaha.

Haduh.. kalau ingat-ingat masa itu tuh rasanyaa.. gak  mau lagi kena baby blues. Moment yang seharusnya membahagiakan malah seperti itu. Makanya saya berpikir bahwa persiapan mental untuk menjadi seorang ibu juga penting.

Saya juga bertekad untuk siap sedia menolong teman atau tetangga yang baru melahirkan. Walaupun hanya sekedar mengirimkan sayur matang, dan gantian menjaga bayi supaya si ibu bisa mandi. Well believe it or not, ketika itu mandi penjadi hal yang paling saya tunggu, dan juga paling susah dilakukan.

Tapi alhamdulillah semuanya sudah terlewati. Setelah dua minggu struggle di rumah sendiri, akhirnya saya minta izin suami untuk diizinkan pulang ke rumah orang tua saja ketika suami pergi kerja (karena sedang masa cuti dari konveksi hehehe). Alhamdulillah suami pun gak tega lihat saya nangis-nangis minta pulang, jadi mulai saat itu setiap pagi saya di drop di rumah orang tua saya dan malamnya dijemput lagi oleh suami. Di rumah orang tua saya bisa sedikit tidur siang, mandi bisa lebih lama, dan belajar menjadi ibu dengan psikologis yang lebih stabil.

Saya bukannya tidak senang loh dengan punya anak. Seneeeeeng banget banget punya anak. Tapi ya itu, prosesnya ternyata seperti itu. Lagi-lagi itu mungkin kesalahan saya juga yang gak prepared, dan pengaruh hormon. Jadi semua curhatan saya ketika baby blues itu bukan karena Maryam. No. Maryam adalah karunia terindah dari Allah and I love her so much.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya khususnya untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Untuk menyiapkan diri jika kelak Maryam punya adik. Eh. hehehe.

But anyway, Alhamdulillah wa syukurillah tiada terkira kepada Allah atas segalanya. Karena kalau Allah tidak bilang “kun” maka tidak terjadi semuanya. Kalau Allah tidak ridho juga tidak terjadi semuanya. Thanks God, I love you :’)

Gimana sekarang?

Kalau ditanya gimana perasaan gw sekarang? Cuma bisa diem. Hmm. Yemm..

Hamil 9 bulan, yang kalau “disenggol” dikit bisa nangis bombay lebay. Tapi bener sih, rasanya dengan berbagai hal dan pikiran yang berkecamuk, sedikit saja hal yang nambah pikiran datang lagi bisa bikin down dan kepikiran. Dan rasanyaaaa hemm.. susah dijelaskan. Khawatir juga sama si dedek, yang ummi nya ini kerjaannya nangis mulu kayak lagi nonton film India. Cuma bisa berusahaaa banget buat kuat-kuatin hati dan pikiran. Gak mau terbebani sama beberapa case dan soal ujian yang sekarang lagi Allah kasih. Maunya fokus aja ke lahiran yang tinggal beberapa minggu lagi.

Bahkan kalau bisa mengasingkan diri, gw pergi deh kemana gitu buat nenangin pikiran dan hati yang bergejolak kayak ombak di laut selatan. Biar bisa lahiran dengan tenang. Well gw gak tau sih gimana lahiran itu secara ini pertama hamil, tapi dari yang gw baca dan dengar, mental sang ibu ketika persalinan memegang peranan penting dalam pelepasan hormon yang dibutuhkan untuk persalinan. Kalau mentalnya jatuh, hormon yang keluar juga jelek.

Solusinya? Baca Quran aja, sholat, minta ampun dan kekuatan sama Allah. Semoga Allah ridho, menguatkan, memudahkan, dan melancarkan semuanya. Aamiin.

Setitik Iman Kami

Hmm. Nulis apa ya. Banyak banget yang terjadi akhir akhir ini. Lepas dari baik buruknya, mudah mudahan saya termasuk orang-orang yang besyukur kepada Allah. Allah sebaik-baik penolong dan perencana.

Hari ini temanya #212. Udah terdengar seantero Indonesia kayaknya ya kalau hari ini ada Aksi Super Dama, Aksi Bela Islam jilid III di Jakarta. Dari beberapa hari yang lalu saya sudah dibuat merinding, teharu biru, menangis melihat berbagai report online dari sahabat-sahabat di media sosial mengenai yang para peserta aksi lakukan menjelang hari H. Ada yang berjalan dari Ciamis dengan tekad bulat membara, dari Bandung, Bogor, dan lain-lain. Dari daerah lain pun tak ketinggalan. Dari Sumatera (corect me if I’m wrong), mereka carter 10 pesawat dengan biaya 2juta per orang untuk ikut aksi ini. Masya Allah.. Maluuuuu saya rasanya malu banget, lokasi gak jauh dari Jakarta, tapi gak bisa ikutan 😥

Gak usah deh saya ceritain detil bagaimana perjuangan para mujahid. Bahkan ada anak kecil umur 12 tahun juga ikut jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk menggantikan bapaknya yang telah tiada. Ya Allah sungguh kalau iman di hati yang menggerakkan.. sudahlah, ntar nangis lagi :’

Yang lain, juga turut ambil perannya. Sesuai dengan apa yang mereka bisa. Mulai dari sumbang makanan kecil sampai berat, minuman, sendal, sepatu, baju, celana, spot untuk charger, buat posko2 untuk memasak, tahu, nasi bakar, sejadah, air mineral, air wudhu, tenaga, moril, materil, semua rasanya mereka kerahkan selagi mampu untuk bisa ikutan aksi ini. Jadi tukang bebersih pun jadi.

Alhamdulillah, ternyata hujan turun menjelang sholat jumat. Pada kabur gak jemaah? Ya gak lah! Inget, jadi double chance kan buat dikabulin sama Sang Maha Pengabul? Pertama doa musafir, kedua doa ketika turun hujan. Mereka tetep duduk khusyuk di shafnya, sholat walaupun diguyur hujan basah dari atas sampe bawah dari luar sampai dalam. Insya Allah berkaaaah :’)

Tapi dibalik keterharuan dan senengnya saya melihat aksi damai hari ini, ada juga yang mengganjal dan bikin sedih hati. Hanya terus memohon kepada Allah semoga diberikan jalan, dibukakan pintu hati bagi semua, tidak dicatat perkataan buruknya :’(. Walaupun Allah Maha Mendengar, tapi Allah Maha Pemaaf, mohon ampun ya Allah.. Khilaf dan dosa memang ada pada manusia, mohon petunjuk..

Semoga Allah selalu meridhoi semua perjuangan para mujahid dari seluruh tanah air, baik yang turun langsung dengan berbagai perannya maupun yang hanya bisa berdoa dari rumah dan dari kantor. Semoga Allah mencatatnya sebagai salah satu bentuk pembelaan kami terhadap Al-Quran yang kami cinta. Semoga doa-doa hari ini terkabul, terjabbah. Jumat barokah.. Aamiin ya robbal ‘alamin..

Decision

Lama banget rasanya say atidak mengisi blog ini. Padahal niat awal bikin blog ini pengennya sih bisa nulis setiap hari. Tapi apa daya..

Bulan ini bulan Desember tahun 2015. Sudah satu tahun saya dan suami menjalankan kehidupan di fase baru, fase pernikahan. Tapi sampai detik ini, fase kami masih di tahap “berdua”. Allah belum mengizinkan kami untuk menjalani fase ini bertiga atau berempat atau berlima.

Rasanya? Waah.. Ini yang membuat saya seringkali bersyukur memiliki suami seperti Ganesha. Dia yang selalu membuat saya kuat setiap bulannya, ketika tamu saya datang 😀

“Alhamdulillah.. Kita coba lagi bulan depan yaa :)”

Itu kata-katanya setiap bulan setiap saya beritahu bahwa tamu telah datang. Hihi. Saya yang tadinya sedih, dan sedikit frustrasi, jadi kembali bersemangat. Kembali bersyukur apapun yang diberikan Allah.

Kami sebenarnya sudah sangat-benar-benar-ingin-sekali memiliki keturunan. “Aku hamil” adalah kata-kata yang paling ingin saya sampaikan kepada suami saya, juga kepada orang tua kami. Sekali lagi, Allah masih menginginkan kami untuk berdua, sambil terus berusaha dan berdoa.

Berbagai usaha, walaupun masih dalam hitungan, sudah kami lakukan. Bahkan program hamil sudah saya browsing dengan rajin ketika menginjak bulan kedua pernikahan. Hehe. Mulai dari mengkonsumi madu penyubur, susu promil, vitamin ina itu, urut :D, kurma, jus tiga diva yang terkenal itu, dan lain-lain. Bahkan saya juga sudah membeli buku Panduan Kehamilan dan buku promil juga. Hehe.

Tapi sekali lagi, kata Allah, sabar dulu yaa Indah dan Ganesha..

Alhamdulillah.. Selama satu tahun kami hidup berdua, kami jadi memiliki banyak waktu untuk belajar lebih lagi.

Belajar bagaimana menjadi suami dan istri yang baik..

Belajar bagaimana menjadi anak sekaligus menantu yang baik untuk ke-empat orang tua kami..

Belajar bagaimana menjadi kakak ipar yang baik untuk adik-adik kami..

Belajar bagaimana bertetangga yang baik sejak kami hidup mandiri..

Juga bagaimana menjadi orang tua yang baik!

Kami harap, Allah melihat ini sebagai bentuk salah satu ikhtiar kami untuk menjadi yang lebih baik lagi di mata Allah. Karena kami hanya ingin ridhoNya saja 🙂

Well, time goes by. Satu bulan terakhir ini ada satu wacana masuk dalam kehidupan kami menyangkut anak. Memang masih dalam tahap penggodokan. Tapi kami selalu berharap dan juga yakin, bahwa Allah selalu menyiapkan yang terbaik untuk hambaNya. Bahwa yang terbaik pasti sedang disiapkan oleh Allah untuk kami.

Apapun itu, kami yakin, itu yang terbaik.

Doakan kami selalu, ya! 🙂

After-Married Life

Begini, pertama secara umum menikah dan belum menikah berbeda. Well, sangat berbeda. Sangat, sangat, sangat berbeda.

Jika kalian mendengar kabar seorang teman akan menikah, bahagiakah kalian? Ya dong karena itu berita yang membahagiakan. Sama, saya juga. Kecuali satu dan berbagai macam alasan yang tidak disyariatkan agama, membuat menikah menjadi hal yang tidak membahagiakan.

Oke sekarang kita generalisasikan menikah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Setuju? 😀

Kedua, kehidupan sesorang sebelum dan sesudah menikah juga sangat berbeda. Secara umum. Kalau sebelum menikah saya hanya memiliki dua orang tua, dua adik, dan beberapa belas orang keluarga besar, setelah menikah jumlah keluarga saya menjadi double banyaknya. Orang tua saya menjadi empat, adik saya juga kebetulan menjadi 4, dan keluarga besar saya pun menjadi beberapa puluh! Wah..

Kalau sebelum menikah waktu luang ketika weekend dan hari libur diisi dengan berkumpul bersama keluarga, hang out bareng teman-teman, kegiatan sosial di Rumah Merah Putih, atau kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan dan bermanfaat. Setelah menikah maka waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan itu juga menjadi dua kali lipatnya.

Prioritas utama sekarang setelah menikah bukan lagi berkumpul main-main bersama teman-teman, bahkan Rumah Merah Putih bukan lagi menjadi salah satu prioritas yang saya utamakan. Setelah menikah saya dan suami harus pintar-pintar membagi waktu untuk berkunjung dan bersilaturrahim ke rumah orang tua kami. Jika misalnya Sabtu saya berada di rumah orang tua saya, Minggu saya jadwalkan untuk datang ke rumah mertua.

Kami juga harus pintar membagi waktu untuk kami berdua. Hehe. Our time. Our time bagi kami itu bukan sekedar makan bersama, istirahat bersama setelah seharian beraktifitas, dan lain-lain. Our time bagi kami kadang melakukan berbagai kegiatan berdua, seharian! Well, walaupun itu cuma sekedar bersih-bersih rumah dari depan sampai belakang dari pagi sampai siang, it’s worth it untuk menyeimbangkan minggu kami.

Tapiii, setelah berbagai hal di atas, bukan juga waktu saya menjadi semakin terbatas untuk sekedar bertemu teman-teman, atau bahkan berkunjung ke aktifitas Rumah Merah Putih. Saya masih sempat kok datang untuk ikut meeting RMP, mengajar dan bertemu dengan adik-adik imut dan kakak-kakak menggemaskan. Bahkan bertemu dengan komunitas lain untuk sekedar sharing juga masih sempat.

Di lain hal, saya juga masih bisa loh untuk haha-hihi besama teman-teman lama, bahkan sampai menginap juga masih bisa! hihihihihi.

Jadi, sebenarnya menikah itu tidak menjadi pembatas untuk kita terutama perempuan berkegiatan. Semuanya masih bisa dilakukan, hanya frekuensi nya saja yang beda. Prioritasnya saja yang sudah berubah. Asal didiskusikan dengan suami dan yang terpenting diizinkan, ya monggo!

Kenapa saya tulis begini.. Karena mungkin ada beberapa orang yang terlalu dekat dengan sahabatnya, yang mungkin (lagi) merasa sedih karena setelah sahabatnya menikah kok rasanya beda? Kok sahabat malah jadi jauh? Kok sahabat susah diajakkin ketemuan lagi? Kok sahabat malah begini? Kok malah begitu? Dan banyak Kok-kok yang lainnya. Dan mungkin.. semuanya akan menjadi “oooh iya ya” ketika si dia yang belum menikah, akhirnya menikah dan merasakan hal yang sama dengan sahabatnya. Hehe. Panjang ya..

Dan kenapa juga saya jelaskan panjang lebar.. Karena saya juga ingin menjawab sebagian “kok-kok” orang yang bertanya-tanya. Bahwa, hei! Kami yang sudah menikah bukan berubah. Hei, kami  masih sama. Hei, kami juga rindu! Hei! Hei! Hei!. Dan hei yang lain.

Intinya, tidak ada yang berubah dari saya terutama. Hehe. Kalau ada yang merasa saya berubah, ya monggo silahkan tegur dengan cara yang baik. Karena cara yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Insya Allah 🙂

Well, let’s live life then give life! *gak nyambung* hehehe

Kabut Asap Indonesia

Green – Our (victim) Lovely Orang Utan (Video dokumenter, Green)

Akhir-akhir ini berita kabut asap sedang marak di mana-mana. Ya memang karena Indonesia sedang dilanda musibah kebakaran hutan, or should I say, hutan yang dibakar?

Hm. Apapun kata media, apapun kata pemerintah, this is so obvious bahwa hutan-hutan di sebagian pulau Kalimantan, dan Sumatera ini memang sengaja dibakar untuk mengeruk keuntungan sebagian pihak. Am I wrong?

For information, kabut asap yang tengah menerpa beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan (dan katanya sekarang asapnya sudah sampai di beberapa daerah pulau Jawa dan sekitarnya), sudah menelan korban. Bukan cuma korban materi, tapi juga korban jiwa!

Korban jiwa juga bukan hanya manusia, tapi juga satwa-satwa di sana! Ahh.. geram sekali rasanya melihat hal ini terjadi. Hal ini bukan hanya setahun dua tahun terjadi, ini sudah belasan tahun! Tapi kami bisa apa?

Hanya untuk keuntungan ‘beberapa’ perusahaan besar, mereka rela mengorbankan hak-hak hidup banyak rakyat kecil. Untuk kepentingan ekspansi lahan kelapa sawit mereka membakar hutan, menyebabkan asap sampai beberapa negara, menghilangkan habitat, dan menghilangkan nyawa manusia juga satwa. Kalau hal ini sudah berlangsung selama belasan tahun, lalu yang salah siapa? Saya tidak perlu menjawab sepertinya.

Video yang saya share diatas merupakan video tentang Green, seekor orang utan yang juga menjadi korban deforestation yang dilakukan oleh perusahaan besar bermental kecil. Ketika ditemukan, Green berada di dalam lumpur, kakinya lumpuh, dan ketika dia tahu ada manusia datang untuk menyelamatkannya… ah saya tidak bisa meneruskannya. Mata Green yang berbicara..

Green saat diselamatkan.
Green saat diselamatkan.

See? Itu Green saat ditemukan. Green dirawat oleh salah satu badan sosial di sana. Saya tidak tahu apa namanya, tapi filmnya didokumentasikan oleh Patrick Rouxel dari Green Planet Films, thanks to them. Setelah dirawat beberapa hari, Green mati.

This is so heartbreaking. No, I’m not sentimental. I’m not sensitive. But truly this is so sad. Dan menonton film ini, saya merasa menjadi manusia yang jahat. Ya saya merasa jahat.

Saya langsung teringat berpuluh-puluh buku tak terpakai yang kertas di dalamnya masih kosong..

Saya juga ingat kayu-kayu yang saya bakar..

Saya teringat kertas-kertas yang masih bagus, yang saya pakai hanya sekedar coret-coret atau membuat pesawat-pesawatan..

Saya teringat minyak goreng yang saya beli..

Saya teringat HP Smartfren yang adik saya punya yang dibeli dari PT Sinarmas..

Saya teringat Pizza Hut, McD, coklat Arnotts yang saya makan, Shampo dan sabun dari Unilever yang saya pakai..

Saya teringat saya membeli dan memakai semua produk-produk mereka..

Saya merasa jahat karena saya merasa saya juga turut andil dalam menyebabkan Green dan banyak satwa lainnya menderita 😥

Ah.. sekali lagi, tapi kami bisa apa?

Sebenarnya banyak, banyak sekali yang kita bisa lakukan untuk membantu mengatasi masalah ini. Disamping pasang status protes marah-marah ke pemerintah, atau nulis curhatan kayak saya begini, masih banyak kok hal yang bisa kita lakukan kalau kita serius. Misalnya, tidak memakai kertas dari PT Sinarmas, haha. Tidak membuang-buang kertas, kayu, dan produk dari pohon lainnya. Tidak memakai barang-barang, atau setidaknya mengurangi pemakaian produk dari perusahaan pembakar dan perusahaan penanam saham, dan perusahaan pendukung kegiatan destroying by logging, clearing for palm oil plantations, and the choking haze of rainforest fires, dalam bentuk dukungan apapun. Dan juga, tidak membakar sampah sembarangan.

Dan di akhir video, credit yang ditampilkan adalah..

Deforestation In Indonesia is Made Possibly By

The Wood Industry, The Pulp and Paper Industry, The Palm Oil Industry, with the help of The Financial Institution, The Credit Agents, (beberapa bank dunia dan negara peminjam modal), The Politicians President Of Republik Indonesia and many more, and The Cunsomers…

Now, all we can do is from small things, from our self, and from now! Let’s help our environment, help our friend, help others Gods’ creature.

Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Aamiin ya robbal alamin. Merdeka! *heroik*

hujan November..

when rain starts to fall..
when rain starts to fall..

Halo November.. Sudah satu tahun kita tidak bertemu. Hujan November pun sudah satu tahun tidak menyapa..

Tahun lalu, kau datang bersama dengan debaran hati yang menggebu.. menanti tanggal dan hari berikutnya. Oh tidak, bahkan aku berdebar hanya untuk menanti detik dan menit berikutnya..

Hujan pun mulai datang bersahutan dengan petir.. Hujan datang banyak. Banyak sekali. Aku dan hatiku menjadi sedikit khawatir. Hujan mungkin akan ikut datang mengiringi kebahagiaanku nanti? Ah.. saat itu, aku harap hujan hanya datang sebelumnya saja.

Hujan, kau selalu datang membawa keberkahan. Seperti kata Tuhan, do’a siapa yang akan tertolak ketika hujan? Tuhan pun membuka pintu-pintu harapan ketika kau turun.

Hujan, tahun lalu kau datang bersama dengan berbagai keberkahan. Padaku. Pada keluargaku. Padanya. Pada keluarganya. Pada kami. Hujan, ridho-Nya telah mengaliri semua berkah kala itu.

Hujan, tahun lalu aku hanya menikmatinya sendiri saja dari jendela kamar yang gelap. Dinginnya pun hanya bisa kurasakan sendiri.. Tapi kau selalu bisa membawa senyum bersama dengan air-air yang turun.

Hujan, tahun lalu kau tetap turun ketika hatiku tak lagi separuh. Kau tidak pernah nampak cemburu. Bahkan kau berbahagia, memberikan kami kesempatan lebih banyak lagi untuk berdo’a dan bersyukur atas genapnya hati kami.

Hujan, tahun lalu lengkap lah kebahagiaan kami. Alhamdulillah.

November kembali menyapa. Dengan mataharinya yang sayup-sayup bersinar ketika pagi. Dengan semilir anginnya yang lembut menyentuh kulit. Dan dengan kau kembali turun di sore hari.

Hujan, kau datang lagi. Aku bertanya-tanya. Berkah apalagi yang mengiringi kedatanganmu kali ini? Aku senang sekali. Kau datang lagi.

Hujan, tahukah kau? Bukan aku saja yang menantimu. Hampir semua orang di sini menantimu. Tanah hampir-hampir kehabisan stok air peninggalanmu setahun lalu, Hujan.

Hujan, selalu ada senyum yang muncul ketika kau turun. Pintu-pintu harapan kembali terbuka lebar. Allah siap mendengar dan mengabulkan do’a kami bersamaan dengan tetesan air yang jatuh ke bumi.

Hujan, tahun ini kami berdo’a kepada Allah. Kami sangat senang akan genapnya hati kami. Setengah menjadi satu. Tapi satu belumlah bisa memenuhi ruang hati kami. Hujan, kau turun. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan kepada kami berkah yang sangat kami nantikan. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan hak-Nya kepada kami. Hujan, kami berdo’a semoga di mata Allah, kami sudah pantas mendapatkan titipan itu.

Hujan, semoga do’a kami sampai ke pintu-pintu harapan yang tengah terbuka ketika kau turun. Semoga Allah ridho mengabulkannya. Menggenapan hati yang sudah genap, hingga memenuhi ruang hati kami yang rindu. Ya, Hujan, kami rindu. Kami rindu padamu, Hujan. Pada-Nya. Dan pada titipan-Nya.

Hujan, datanglah.. Aku ingin berdo’a..

Introvert [Part 1]

Introverts tend to be preoccupied with their own thoughts and feelings and minimize their contact with other people.

Yap, introvert adalah salah satu sifat manusia yang lebih suka bergelut dengan pikirannya sendiri. Termasuk saya. Dari dulu, saya dikenal sebagai orang yang tertutup. Bahkan oleh sahabat-sahabat saya sendiri.

Ketika kuliah dulu, saya lebih suka mendengarkan teman-teman saya curhat dibanding dengan saya yang curhat. Unless being asked, saya kayaknya jarang memulai cerita duluan.

Well, time goes by, seiring waktu berjalan, selama kuliah juga saya bertemu dengan banyak orang. Mulai dari satu kelas, satu jurusan, satu BEMJ, BEMF, satu UKM, sampai satu komunitas. Saya tahu, saya kurang luwes jika bertemu dengan orang-orang baru. Makanya, saya niatkan untuk mengikuti berbagai kegiatan ketika menginjak semester 3.

Saya yang tadinya tidak suka bergaul dengan banyak orang, mulai memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman. Saya pergi ke Pare, tempat kursus bahasa Inggris, sendirian selama dua bulan. Awalnya saya juga bertanya-tanya sendiri, nantinya punya teman nggak ya? Tapi ketika kita sudah niat, dan memaksa diri untuk melangkah, akhirnya hasilnya juga baik. Saya mendapatkan banyak teman-teman yang sangat baik. Bahkan beberapa diantaranya masih berkomunikasi hingga sekarang, well, it’s been 5 years!

to be continue.. 😀