Gimana sekarang?

Kalau ditanya gimana perasaan gw sekarang? Cuma bisa diem. Hmm. Yemm..

Hamil 9 bulan, yang kalau “disenggol” dikit bisa nangis bombay lebay. Tapi bener sih, rasanya dengan berbagai hal dan pikiran yang berkecamuk, sedikit saja hal yang nambah pikiran datang lagi bisa bikin down dan kepikiran. Dan rasanyaaaa hemm.. susah dijelaskan. Khawatir juga sama si dedek, yang ummi nya ini kerjaannya nangis mulu kayak lagi nonton film India. Cuma bisa berusahaaa banget buat kuat-kuatin hati dan pikiran. Gak mau terbebani sama beberapa case dan soal ujian yang sekarang lagi Allah kasih. Maunya fokus aja ke lahiran yang tinggal beberapa minggu lagi.

Bahkan kalau bisa mengasingkan diri, gw pergi deh kemana gitu buat nenangin pikiran dan hati yang bergejolak kayak ombak di laut selatan. Biar bisa lahiran dengan tenang. Well gw gak tau sih gimana lahiran itu secara ini pertama hamil, tapi dari yang gw baca dan dengar, mental sang ibu ketika persalinan memegang peranan penting dalam pelepasan hormon yang dibutuhkan untuk persalinan. Kalau mentalnya jatuh, hormon yang keluar juga jelek.

Solusinya? Baca Quran aja, sholat, minta ampun dan kekuatan sama Allah. Semoga Allah ridho, menguatkan, memudahkan, dan melancarkan semuanya. Aamiin.

Advertisements

Setitik Iman Kami

Hmm. Nulis apa ya. Banyak banget yang terjadi akhir akhir ini. Lepas dari baik buruknya, mudah mudahan saya termasuk orang-orang yang besyukur kepada Allah. Allah sebaik-baik penolong dan perencana.

Hari ini temanya #212. Udah terdengar seantero Indonesia kayaknya ya kalau hari ini ada Aksi Super Dama, Aksi Bela Islam jilid III di Jakarta. Dari beberapa hari yang lalu saya sudah dibuat merinding, teharu biru, menangis melihat berbagai report online dari sahabat-sahabat di media sosial mengenai yang para peserta aksi lakukan menjelang hari H. Ada yang berjalan dari Ciamis dengan tekad bulat membara, dari Bandung, Bogor, dan lain-lain. Dari daerah lain pun tak ketinggalan. Dari Sumatera (corect me if I’m wrong), mereka carter 10 pesawat dengan biaya 2juta per orang untuk ikut aksi ini. Masya Allah.. Maluuuuu saya rasanya malu banget, lokasi gak jauh dari Jakarta, tapi gak bisa ikutan 😥

Gak usah deh saya ceritain detil bagaimana perjuangan para mujahid. Bahkan ada anak kecil umur 12 tahun juga ikut jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk menggantikan bapaknya yang telah tiada. Ya Allah sungguh kalau iman di hati yang menggerakkan.. sudahlah, ntar nangis lagi :’

Yang lain, juga turut ambil perannya. Sesuai dengan apa yang mereka bisa. Mulai dari sumbang makanan kecil sampai berat, minuman, sendal, sepatu, baju, celana, spot untuk charger, buat posko2 untuk memasak, tahu, nasi bakar, sejadah, air mineral, air wudhu, tenaga, moril, materil, semua rasanya mereka kerahkan selagi mampu untuk bisa ikutan aksi ini. Jadi tukang bebersih pun jadi.

Alhamdulillah, ternyata hujan turun menjelang sholat jumat. Pada kabur gak jemaah? Ya gak lah! Inget, jadi double chance kan buat dikabulin sama Sang Maha Pengabul? Pertama doa musafir, kedua doa ketika turun hujan. Mereka tetep duduk khusyuk di shafnya, sholat walaupun diguyur hujan basah dari atas sampe bawah dari luar sampai dalam. Insya Allah berkaaaah :’)

Tapi dibalik keterharuan dan senengnya saya melihat aksi damai hari ini, ada juga yang mengganjal dan bikin sedih hati. Hanya terus memohon kepada Allah semoga diberikan jalan, dibukakan pintu hati bagi semua, tidak dicatat perkataan buruknya :’(. Walaupun Allah Maha Mendengar, tapi Allah Maha Pemaaf, mohon ampun ya Allah.. Khilaf dan dosa memang ada pada manusia, mohon petunjuk..

Semoga Allah selalu meridhoi semua perjuangan para mujahid dari seluruh tanah air, baik yang turun langsung dengan berbagai perannya maupun yang hanya bisa berdoa dari rumah dan dari kantor. Semoga Allah mencatatnya sebagai salah satu bentuk pembelaan kami terhadap Al-Quran yang kami cinta. Semoga doa-doa hari ini terkabul, terjabbah. Jumat barokah.. Aamiin ya robbal ‘alamin..