After-Married Life

Begini, pertama secara umum menikah dan belum menikah berbeda. Well, sangat berbeda. Sangat, sangat, sangat berbeda.

Jika kalian mendengar kabar seorang teman akan menikah, bahagiakah kalian? Ya dong karena itu berita yang membahagiakan. Sama, saya juga. Kecuali satu dan berbagai macam alasan yang tidak disyariatkan agama, membuat menikah menjadi hal yang tidak membahagiakan.

Oke sekarang kita generalisasikan menikah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Setuju? 😀

Kedua, kehidupan sesorang sebelum dan sesudah menikah juga sangat berbeda. Secara umum. Kalau sebelum menikah saya hanya memiliki dua orang tua, dua adik, dan beberapa belas orang keluarga besar, setelah menikah jumlah keluarga saya menjadi double banyaknya. Orang tua saya menjadi empat, adik saya juga kebetulan menjadi 4, dan keluarga besar saya pun menjadi beberapa puluh! Wah..

Kalau sebelum menikah waktu luang ketika weekend dan hari libur diisi dengan berkumpul bersama keluarga, hang out bareng teman-teman, kegiatan sosial di Rumah Merah Putih, atau kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan dan bermanfaat. Setelah menikah maka waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan itu juga menjadi dua kali lipatnya.

Prioritas utama sekarang setelah menikah bukan lagi berkumpul main-main bersama teman-teman, bahkan Rumah Merah Putih bukan lagi menjadi salah satu prioritas yang saya utamakan. Setelah menikah saya dan suami harus pintar-pintar membagi waktu untuk berkunjung dan bersilaturrahim ke rumah orang tua kami. Jika misalnya Sabtu saya berada di rumah orang tua saya, Minggu saya jadwalkan untuk datang ke rumah mertua.

Kami juga harus pintar membagi waktu untuk kami berdua. Hehe. Our time. Our time bagi kami itu bukan sekedar makan bersama, istirahat bersama setelah seharian beraktifitas, dan lain-lain. Our time bagi kami kadang melakukan berbagai kegiatan berdua, seharian! Well, walaupun itu cuma sekedar bersih-bersih rumah dari depan sampai belakang dari pagi sampai siang, it’s worth it untuk menyeimbangkan minggu kami.

Tapiii, setelah berbagai hal di atas, bukan juga waktu saya menjadi semakin terbatas untuk sekedar bertemu teman-teman, atau bahkan berkunjung ke aktifitas Rumah Merah Putih. Saya masih sempat kok datang untuk ikut meeting RMP, mengajar dan bertemu dengan adik-adik imut dan kakak-kakak menggemaskan. Bahkan bertemu dengan komunitas lain untuk sekedar sharing juga masih sempat.

Di lain hal, saya juga masih bisa loh untuk haha-hihi besama teman-teman lama, bahkan sampai menginap juga masih bisa! hihihihihi.

Jadi, sebenarnya menikah itu tidak menjadi pembatas untuk kita terutama perempuan berkegiatan. Semuanya masih bisa dilakukan, hanya frekuensi nya saja yang beda. Prioritasnya saja yang sudah berubah. Asal didiskusikan dengan suami dan yang terpenting diizinkan, ya monggo!

Kenapa saya tulis begini.. Karena mungkin ada beberapa orang yang terlalu dekat dengan sahabatnya, yang mungkin (lagi) merasa sedih karena setelah sahabatnya menikah kok rasanya beda? Kok sahabat malah jadi jauh? Kok sahabat susah diajakkin ketemuan lagi? Kok sahabat malah begini? Kok malah begitu? Dan banyak Kok-kok yang lainnya. Dan mungkin.. semuanya akan menjadi “oooh iya ya” ketika si dia yang belum menikah, akhirnya menikah dan merasakan hal yang sama dengan sahabatnya. Hehe. Panjang ya..

Dan kenapa juga saya jelaskan panjang lebar.. Karena saya juga ingin menjawab sebagian “kok-kok” orang yang bertanya-tanya. Bahwa, hei! Kami yang sudah menikah bukan berubah. Hei, kami  masih sama. Hei, kami juga rindu! Hei! Hei! Hei!. Dan hei yang lain.

Intinya, tidak ada yang berubah dari saya terutama. Hehe. Kalau ada yang merasa saya berubah, ya monggo silahkan tegur dengan cara yang baik. Karena cara yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Insya Allah 🙂

Well, let’s live life then give life! *gak nyambung* hehehe