Persalinan Maryam, Persalinan Alami (Part 1)

pagi hari, 28 Desember 2017

Kehamilan sudah masuk minggu ke 38 + 4 hari. Pagi itu masih belum ada tanda-tanda cinta dari sang bayi. Seperti biasa, saya mulai hari dengan memperbanyak langkah, dan destinasi kali itu adalah ke tukang sayur (hihi).

Menu saya pagi itu adalah ubi. Niatnya seharian saya akan makan ubi sebagai pengganti nasi. Beberapa hari belakangan saya gencar untuk menguatkan diri saya dengan diet karbohidrat. Bidan Maya menyarankan saya untuk mengkonsumsi ubi sebagai pengganti nasi dalam rangka diet karbo. Hal ini di maksudkan untuk menghindari pemendekan tali pusat bayi sehingga memperlancar persalinan seperti yang saya inginkan.

Selesai masak dan sarapan, serta mengantar suami berangkat kerja, saya pun melanjutkan pekerjaan domestik. Ini pun dalam rangka memperbanyak langkah dan gerak :D.

siang hari, 28 Desember 2016

Tiba-tiba saya terbangun karena ingin buang air kecil. Rupanya tadi saya ketiduran setelah selesai dengan pekerjaan rumah. Daan tarrraaaa… ternyata ada bercak darah seperti flek. Saya pun langsung berpikiran, “wah, ini nih yang ditunggu”.

Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi suami.

Aku flek, kamu pulang ya.”

Wah, udah mau ya? Oke aku pulang.”

Dari awal kehamilan saya sudah mantap untuk menjadikan suami sebagai pendamping saya ketika melahirkan. Bahkan suami harus kudu wajib ada di samping saya semenjak tanda-tanda melahirkan muncul. Alhamdulillah, pekerjaan suami yang fleksibel memudahkan ia untuk mendampingi saya selama detik-detik persalinan.

Saat itu kontraksi pun mulai datang. Awal-awal hanya seperti kram perut biasa. Sama ketika saya hendak haid. Seperti itu. Tidak sakit, saya pun masih santai tiduran sambil membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan anak saya yang cantik jelita. Senangnyaaaaa..

Saat suami tiba, kontraksi masih belum stabil dan juga belum terlalu sakit. Saya juga menghubungi bidan Maya, karena memang rencana persalinan akan dilakukan di Klinik Bidan Maya.

“Assalamu’alaykum. Mbak Maya, tadi aku flek. hehe. sama lendir bening. Sepertinya mucus plug aku udah kelaur deh.”

Iya. Kontraksinya gimana? Hitung pakai contraction timer.”

“Iya mbak, rata-rata masih 10 menit jaraknya. Tapi belum teratur sih, tapi udah lebih sakit.”

“Siip, masih nyante. Untuk aktivitas biasa dulu yaa. Kontraksi akan nambah terus. Belum bukaan biasanya kalau belum sering frekuensinya. Masih effacement dulu.”

“Berarti mucus plug belum tentu pembukaan ya? Aku pakai pembalut gapapa gak mbak?”

“Iya belum tentu. Gapapa kok.”

“Oke Mbak nanti kabar-kabaran lagi ya.”

Mbak Maya masih belum nyuruh kita datang ke klinik. FYI, jarak rumah kami ke klinik Bidan Maya terhitung lumayan jauh. Rumah kami di Cileungsi -yang terkenal macetnya, dan Klinik Bidan Maya di Citayam Depok -yang juga terkenal dengan kemacetan supernya. Kira-kira jarak tempuhnya 1,5-2 jam lah. Hehehehe. Bismillah lah ya, sampe sana belum brojol duluan πŸ˜€

Sambil menunggu getaran cinta datang lebih intensif, suami menyarankan saya untuk duduk di birth ball sambil exercise. Tapi saya hanya bertahan beberapa lama saja, karena bosan! haha.

Dari pada main birth ball yang ngebosenin mending jalan-jalan kan ya. Bidan juga menyarankan untuk jalan-jalan banyak beraktivitas seperti biasa. Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang banyak jalan menjelang persalinan akan mempercepat proses persalinan sebesar 28%. Lumayaaaaaaan

Jadilah saya iseng ngajak suami jalan. Eh dia mau. Yaudah kita cuss jalan-jalan.

Ke mana?

KE BLOK M.

hahaha.

“Bi kita jalan-jalan aja yuk. Aku bosen duduk di birth ball.”

“Mau kemana?”

*mikir*

“Emmm.. ke Blok M.” (tanpa basa basi)

“Hah? Yakin? Kuat emang? Masih lama gak melahirkannya?”

Dengan bermodal keyakinan dan insting saya jawab,Β “Iya, masih lama insya Allah lahirannya.”

Akhirnyaa berangkat lah kita ke Blok M. Haha. Tapi emang saat itu yakin bahwa lahiran masih menunggu waktu agak lama. Kontraksi juga belum sering. Walaupun udah mulai kerasa nikmatnyaa. Hihihi

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Gimana sekarang?

Kalau ditanya gimana perasaan gw sekarang? Cuma bisa diem. Hmm. Yemm..

Hamil 9 bulan, yang kalau “disenggol” dikit bisa nangis bombay lebay. Tapi bener sih, rasanya dengan berbagai hal dan pikiran yang berkecamuk, sedikit saja hal yang nambah pikiran datang lagi bisa bikin down dan kepikiran. Dan rasanyaaaa hemm.. susah dijelaskan. Khawatir juga sama si dedek, yang ummi nya ini kerjaannya nangis mulu kayak lagi nonton film India. Cuma bisa berusahaaa banget buat kuat-kuatin hati dan pikiran. Gak mau terbebani sama beberapa case dan soal ujian yang sekarang lagi Allah kasih. Maunya fokus aja ke lahiran yang tinggal beberapa minggu lagi.

Bahkan kalau bisa mengasingkan diri, gw pergi deh kemana gitu buat nenangin pikiran dan hati yang bergejolak kayak ombak di laut selatan. Biar bisa lahiran dengan tenang. Well gw gak tau sih gimana lahiran itu secara ini pertama hamil, tapi dari yang gw baca dan dengar, mental sang ibu ketika persalinan memegang peranan penting dalam pelepasan hormon yang dibutuhkan untuk persalinan. Kalau mentalnya jatuh, hormon yang keluar juga jelek.

Solusinya? Baca Quran aja, sholat, minta ampun dan kekuatan sama Allah. Semoga Allah ridho, menguatkan, memudahkan, dan melancarkan semuanya. Aamiin.

Setitik Iman Kami

Hmm. Nulis apa ya. Banyak banget yang terjadi akhir akhir ini. Lepas dari baik buruknya, mudah mudahan saya termasuk orang-orang yang besyukur kepada Allah. Allah sebaik-baik penolong dan perencana.

Hari ini temanya #212. Udah terdengar seantero Indonesia kayaknya ya kalau hari ini ada Aksi Super Dama, Aksi Bela Islam jilid III di Jakarta. Dari beberapa hari yang lalu saya sudah dibuat merinding, teharu biru, menangis melihat berbagai report online dari sahabat-sahabat di media sosial mengenai yang para peserta aksi lakukan menjelang hari H. Ada yang berjalan dari Ciamis dengan tekad bulat membara, dari Bandung, Bogor, dan lain-lain. Dari daerah lain pun tak ketinggalan. Dari Sumatera (corect me if I’m wrong), mereka carter 10 pesawat dengan biaya 2juta per orang untuk ikut aksi ini. Masya Allah.. Maluuuuu saya rasanya malu banget, lokasi gak jauh dari Jakarta, tapi gak bisa ikutan πŸ˜₯

Gak usah deh saya ceritain detil bagaimana perjuangan para mujahid. Bahkan ada anak kecil umur 12 tahun juga ikut jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk menggantikan bapaknya yang telah tiada. Ya Allah sungguh kalau iman di hati yang menggerakkan.. sudahlah, ntar nangis lagi :’

Yang lain, juga turut ambil perannya. Sesuai dengan apa yang mereka bisa. Mulai dari sumbang makanan kecil sampai berat, minuman, sendal, sepatu, baju, celana, spot untuk charger, buat posko2 untuk memasak, tahu, nasi bakar, sejadah, air mineral, air wudhu, tenaga, moril, materil, semua rasanya mereka kerahkan selagi mampu untuk bisa ikutan aksi ini. Jadi tukang bebersih pun jadi.

Alhamdulillah, ternyata hujan turun menjelang sholat jumat. Pada kabur gak jemaah? Ya gak lah! Inget, jadi double chance kan buat dikabulin sama Sang Maha Pengabul? Pertama doa musafir, kedua doa ketika turun hujan. Mereka tetep duduk khusyuk di shafnya, sholat walaupun diguyur hujan basah dari atas sampe bawah dari luar sampai dalam. Insya Allah berkaaaah :’)

Tapi dibalik keterharuan dan senengnya saya melihat aksi damai hari ini, ada juga yang mengganjal dan bikin sedih hati. Hanya terus memohon kepada Allah semoga diberikan jalan, dibukakan pintu hati bagi semua, tidak dicatat perkataan buruknya :’(. Walaupun Allah Maha Mendengar, tapi Allah Maha Pemaaf, mohon ampun ya Allah.. Khilaf dan dosa memang ada pada manusia, mohon petunjuk..

Semoga Allah selalu meridhoi semua perjuangan para mujahid dari seluruh tanah air, baik yang turun langsung dengan berbagai perannya maupun yang hanya bisa berdoa dari rumah dan dari kantor. Semoga Allah mencatatnya sebagai salah satu bentuk pembelaan kami terhadap Al-Quran yang kami cinta. Semoga doa-doa hari ini terkabul, terjabbah. Jumat barokah.. Aamiin ya robbalΒ β€˜alamin..

Decision

Lama banget rasanya say atidak mengisi blog ini. Padahal niat awal bikin blog ini pengennya sih bisa nulis setiap hari. Tapi apa daya..

Bulan ini bulan Desember tahun 2015. Sudah satu tahun saya dan suami menjalankan kehidupan di fase baru, fase pernikahan. Tapi sampai detik ini, fase kami masih di tahap “berdua”. Allah belum mengizinkan kami untuk menjalani fase ini bertiga atau berempat atau berlima.

Rasanya? Waah.. Ini yang membuat saya seringkali bersyukur memiliki suami seperti Ganesha. Dia yang selalu membuat saya kuat setiap bulannya, ketika tamu saya datang πŸ˜€

“Alhamdulillah.. Kita coba lagi bulan depan yaa :)”

Itu kata-katanya setiap bulan setiap saya beritahu bahwa tamu telah datang. Hihi. Saya yang tadinya sedih, dan sedikit frustrasi, jadi kembali bersemangat. Kembali bersyukur apapun yang diberikan Allah.

Kami sebenarnya sudah sangat-benar-benar-ingin-sekali memiliki keturunan. “Aku hamil” adalah kata-kata yang paling ingin saya sampaikan kepada suami saya, juga kepada orang tua kami. Sekali lagi, Allah masih menginginkan kami untuk berdua, sambil terus berusaha dan berdoa.

Berbagai usaha, walaupun masih dalam hitungan, sudah kami lakukan. Bahkan program hamil sudah saya browsing dengan rajin ketika menginjak bulan kedua pernikahan. Hehe. Mulai dari mengkonsumi madu penyubur, susu promil, vitamin ina itu, urut :D, kurma, jus tiga diva yang terkenal itu, dan lain-lain. Bahkan saya juga sudah membeli buku Panduan Kehamilan dan buku promil juga. Hehe.

Tapi sekali lagi, kata Allah, sabar dulu yaa Indah dan Ganesha..

Alhamdulillah.. Selama satu tahun kami hidup berdua, kami jadi memiliki banyak waktu untuk belajar lebih lagi.

Belajar bagaimana menjadi suami dan istri yang baik..

Belajar bagaimana menjadi anak sekaligus menantu yang baik untuk ke-empat orang tua kami..

Belajar bagaimana menjadi kakak ipar yang baik untuk adik-adik kami..

Belajar bagaimana bertetangga yang baik sejak kami hidup mandiri..

Juga bagaimana menjadi orang tua yang baik!

Kami harap, Allah melihat ini sebagai bentuk salah satu ikhtiar kami untuk menjadi yang lebih baik lagi di mata Allah. Karena kami hanya ingin ridhoNya saja πŸ™‚

Well, time goes by. Satu bulan terakhir ini ada satu wacana masuk dalam kehidupan kami menyangkut anak. Memang masih dalam tahap penggodokan. Tapi kami selalu berharap dan juga yakin, bahwa Allah selalu menyiapkan yang terbaik untuk hambaNya. Bahwa yang terbaik pasti sedang disiapkan oleh Allah untuk kami.

Apapun itu, kami yakin, itu yang terbaik.

Doakan kami selalu, ya! πŸ™‚

Introvert [Part 1]

Introverts tend to be preoccupied with their own thoughts and feelings and minimize their contact with other people.

Yap, introvert adalah salah satu sifat manusia yang lebih suka bergelut dengan pikirannya sendiri. Termasuk saya. Dari dulu, saya dikenal sebagai orang yang tertutup. Bahkan oleh sahabat-sahabat saya sendiri.

Ketika kuliah dulu, saya lebih suka mendengarkan teman-teman saya curhat dibanding dengan saya yang curhat. Unless being asked, saya kayaknya jarang memulai cerita duluan.

Well, time goes by, seiring waktu berjalan, selama kuliah juga saya bertemu dengan banyak orang. Mulai dari satu kelas, satu jurusan, satu BEMJ, BEMF, satu UKM, sampai satu komunitas. Saya tahu, saya kurang luwes jika bertemu dengan orang-orang baru. Makanya, saya niatkan untuk mengikuti berbagai kegiatan ketika menginjak semester 3.

Saya yang tadinya tidak suka bergaul dengan banyak orang, mulai memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman. Saya pergi ke Pare, tempat kursus bahasa Inggris, sendirian selama dua bulan. Awalnya saya juga bertanya-tanya sendiri, nantinya punya teman nggak ya? Tapi ketika kita sudah niat, dan memaksa diri untuk melangkah, akhirnya hasilnya juga baik. Saya mendapatkan banyak teman-teman yang sangat baik. Bahkan beberapa diantaranya masih berkomunikasi hingga sekarang, well, it’s been 5 years!

to be continue.. πŸ˜€