[Melatih Kemandirian Maryam] Day 1: Maryam Led Weaning 

Game Level 2 di Kelas Bunsay has just begun….. Hehehe.

Kali ini temanya tentang melatih kemandirian anak. Awal liat judulnya saya langsung menetapkan bahwa skill yang akan dilatih (kembali) adalah makan sendiri alias BLW.

Kenapa kembali? Awal Maryam Mpasi memang saya sudah memakai metode BLW. Tapi seiring berjalannya waktu ada banyak hal dan kendala dalam menerapkannya. Tapi sekarang balik lagiiiiii. Bismillah, Maryam BLW lagi!

Hari ini, ketika makan siang Maryam saya buatkan omelet telur keju. Oh ya, usia Maryam sekarang adalah 11 bulan. 

Nasi dan omelet yg saya masak saya hidangkan di piring makan khusus bayi. Yang ada sekat2nya. Awalnya, Maryam mau mengambil sendiri makananya. Tapi hanya bertahan beberapa suap.

Setelah masuk beberapa suapan, itupun hanya sedikit, Maryam tidak mau melanjutkan makannya.

Kalai sudah begitu, saya mulai berfikir keras bagaimana caranya supaya Maryam tetap makan. Sambil menguatkan diri saya untuk tidak menyuapinya.

Akhirnya setelah beberapa lama dibiarkan, Maryam saya ajak duduk kembali dengan piring makan untuk dewasa, yang terbuat dari porcelain. Di piring itu saya bulat-bulatkan nasi dan telur kecil-kecil. Melihat nasi bulat sudah tersedia, Maryam langsung melahapnya. 

Rupanya hari ini Maryam lebih suka makan nasi saja, dan lebih suka jika makanannua sudah tersedia untuk ukuran satu kali hap! 😂

Walaupun tidak habis, tapi setidaknya hari ini mendapat pelajaran baru. Yaitu menyiapkan makanan siap hap hihi.
#HariKe1

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunsayIIP

#MelatihKemandirian

Advertisements

[Komunikasi Produktif] Day 9: Meminta Maryam melakukan sesuatu (Cerita 3)

Saat sedang makan jeruk, Maryam selalu membuang ampas jeruknya ke lantai. Melihat hal itu saya mulai menyampaikan kepada Maryam bahwa makanan yang sudah tidak di makan tidak dibuang ke lantai. Pelan pelaaan sekali.

Maryam, kalau sudah selesai menghisap air jeruknya, ampasnya diberikan ke Ummi ya biar Ummi buang. Kalau Maryam buang ke lantai itu tidak baik, sayang. Berikan ke Ummi yaa. Biar bersih..

Aslinya saya ucapkan itu berulang-ulang selama proses makan jeruk belum selesai. Alhamdulillah sedikit-sedikit ia mengerti.


[Komunikasi Produktif] Day 7: Lebih berhati-hati lagi, Abi.

Pagi hari Maryam sudah bangun, sekaligus membangunkan Ummi dan Abinya. Celoteh dan ocehan yang masih abstrak sudah ia keluarkan membuat suasana pagi semakin ceria. 

Seperti biasa, Ummi akan sibuk pada pagi hari dengan pekerjaan domestiknya. Mulai dari mencuci, menyiapkan sarapan, memandikan Maryam, sampai membersikan rumah. Kalau Abi kebagian menjaga Maryam selama Ummi sibuk 😁.

Setelah semua beres barulah saya bisa mandi. Ketika akan selesai, dari kamar mandi saya mendengar suara tangisan Maryam yang sangat kencang. Rupanya Maryam terjatuh dari kasur. 

Ketika keluar dr kamar mandi saya langsung menghampiri Maryam. Tapi tangisannya tidak kunjung berhenti. Entah masih merasakan sakit atau Maryam kesal, atau mengantuk. Disusui pun masih menangis. Tangisan yang tidak biasa itu membuat saya cemas.

Pelan saya bertanya kepada Abi. Sebenarnya saya sudah mau marah karena ia lalai hingga Maryam seperti itu. Tapi saya tahan karena jika saya marah tidak akan ada yang tercapai.

Saya : Bi, tadi Maryam bagaimana posisi jatuhnya? Kok nangisnya lama. Memangnya Abi nggak lihat Maryam tadi?

Abi : Tadi aku lagi di dapur. Maryam jatuh dengan posisi setengah badan ada di karpet dan dari pinggang kebawah ada di kasur. 

Saya : Terbentu nggak?

Abi : Nggak tahu, Mi. Aku gak lihat posisi jatuhnya.

Saya : Nanti kalau Abi lagi nggak bisa pegang Maryam, taruh saja Maryam di karpet. Kalau di kasur resiko jatuh seperti tadi.. 

Abi : Iya, maafin aku ya. Aku lalai 😞

Saya : Iya bi, lain kali hati-hati ya..

Lalu kami pun berangkat dengan Maryam yang masih menangis hingga tertidur. Sekarang badannya agak hangat dan dia agak cranky seharian. Semoga bukan efek dari jatuhnya, melaikan mau tambah pintar.

[Komunikasi Produktif] Day 3: Kala letih melanda

Kemarin saya dan suami agak cekcok karena suatu hal yang sepele. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalau kami berkomunikasi dengan benar. Tapi keadaan tubuh yang sudah sangat lelah memendekkam sumbu nalar kami masing-masing. Tidak ada dari kami yang mau mengalah saat itu. Ujungnya kami saling mendiamkan. 

Lalu seiring waktu berjalan keadaan mulai melunak. Kami mulai saling bicara dan minta maaf. Moment itu saya gunakan untuk berkomprod untuk clear and clarify.

Saya : Bi, maaf ya aku marah-marah. Tapi kamu emang nyebelin. 

Melihat ekspresinya yang hanya senyum simpul, saya pun memperbaik kata-kata saya.

Saya : Maaf ya Bi, eku emosi.

Abi : Iya gapapa, maaf juga ya..

Saya : Iya Bi. Gapapa.. Tapi Bi, besok-besok kalau mau menyampaikan sesuatu atau menyuruh aku do something, usahakan Tanya aku dulu yaa apakah aku bersedia, bisa atau tidak. Sebaiknya tidak membuat statement tapi pertanyaan dulu. Jadi kamu bisa tau kondisi aku. Semuanya kan harus kompromi..

Abi : iya, maaf ya.. Kemarin aku capek banget jadi keluar ego aku. Keluar juga emosinya.

Saya : Kalau gitu jadi gak ketemu Bi maksud yang mau disampaikan apa.. Kamu capek, kesel, akunya jadi ikutan kesel..

Abi : iya maaf yaaa..

Komunikasi. Hanya butuh itu. Ditambah sedikit kesabaran dan nalar yang panjang. Maka pesan yang hendak kita sampaikan akan diterima dengan bail oleh laws bicata.

Well, kami pun masih harus belajar Banyak lagi tentang itu semua. Bukan hanya untuk kami, tapi juga demi anak-anak kami. Semangat, Ganesha’s Team!

Baby Blues

Sebelum hamil, yang ada di pikiran saya adalah bagaimana menyiapkan kehamilan dan kelahiran dengan sangat baik. Ketika itu saya sibuk ikut kelas kehamilan dan kelahiran Amani Birth di Depok satu minggu sekali. Banyak sekali ilmu tentang hamil dan melahirkan secara alami yang saya ketika mendengarnya tuh ber-ooh-ooh ria. Ternyata hamil itu gak sekedar melendung! Melahirkan gak sekedar ngeden! Semua ada ilmunya yang kalau kita tidak tahu, maka habislah. Maksudnya maka kita hanya akan menjadi bahan objek orang lain. Well, bagian ini akan dibahas nanti ya hehe.

Alhamdulillah sekarang anak saya sudah berusia 1.5 bulan terhitung sejak tanggal kelahirannya 29 Desember 2016 lalu. Alhamdulillah dengan proses alami yang saaaangat enak. Lagi-lagi ini akan saya ceritakan nanti hihi :D.

Ketika hamil, memang saya hanya sibuk mengisi otak saya dengan ilmu kehamilan dan kelahiran. Bagaimana mencapai nutrisi maksimal bagi saya dan calon bayi saya, bagaimana olahraga yang aman bagi ibu hamil, apa saja pantangannya, doa-doanya, kegiatan penunjang kemudahan kelahiran, melahirkan secara islami, dan berbagai tetek bengek lainnya tentang kehamilan dan kelahiran. Waktu itu saya  merasa saya sudah cukup siap menyambut bayi saya. Ilmu yang saya dapatkan ketika hamil insya Allah sudah saya lakukan hampir semuanya. Tapi saya meleset. Ada satu lagi yang tidak saya persiapkan ketika itu. Yaitu mempersiapkan mental menjadi seorang ibu.

Karena ternyata menjadi ibu itu tidaklah  mudah!

Saya menjadi teringat kata-kata beberapa rekan saya ketika dulu. Guru jahit saya suatu waktu pernah berkata, “Memangnya punya anak itu gampang?”. Saya yang ketika itu sedang dalam proses penantian hamil pun heran, bertanya dalam hati bukankah punya anak itu seuatu hal yang saaaaangat membahagiakan?

Di lain waktu guru saya di Depok juga berkata yang intinya lebih suka ketika anak masih dalam kandungan. Nah, saya yang ketika itu sedang dalam proses penantian kelahiran pun menjadi heran kembali, bukankah lahirnya anak adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu?

Ketika Maryam telah lahir dan dibawa pulang ke rumah, barulah saya (yang masih labil hormonnya) merasakan hal yang sama seperti kata guru-guru saya bilang. Saya tidak pernah menyiapkan diri dan mental sebagai ibu. Tidak pernah membekali diri dengan ilmu mengurus bayi. Tidak pernah sama sekali. Maka ketika itu saya kaget secara psikologis.

Menjadi ibu (baru) artinya kita harus menyiapkan tenaga dua kali lebih banyak untuk berbagai aktifitas dibanding sebelumnya. Ketika Maryam lahir dan sudah ada di rumah, Maryam yang masih berusia dua hari pun menyambut kepulangannya dengan pesta “begadang” :D. Ya, Maryam minta mimi susu sepanjang malam. Kalau Maryam di taro di tempat tidur, dia melek dan nangis. Gendong lagi dong ya kasih ASI supaya gak nangis. Dan hal itu berlangsung hingga menjelang pagi baru saya bisa tidur. Lelap? Tidak hehe. Karena Maryam bangun setelah sejam tidur hahahaha.

Belum lagi acara ganti popok yang waktu awal-awal terjadi hampir setiap 1-2 jam sekali. hihi. Produktif sekali kamu, Nak :). Badan saya yang masih sakit setelah melahirkan dan efek jahitan pun terasa remuuuukkk.

Itu baru drama per-begadangan. Sekarang kita beralih ke drama persusuan :D. Namanya juga ibu baru yes, kirain saya menyusui itu ya tinggal kasih payudara ke mulut bayi trus bayi tinga sedot deh dengan senangnya sampai kenyang. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pu*ing payudara saya saat itu leceeeet. Luka. Belah. Berdarah. Yang namanya luka ya biasanya harus didiemin, jauh-jauh deh dari sentuh menyentuh di bagian luka itu. Tapi ini kan yang luka bagian yang hampir setiap dua jam sekali harus diberikan kepada bayi saya untuk memberi ASI. Kebayang sakitnya gimana? 😀

Bermacam pikiran menghinggapi saya waktu itu. Apa pakai dot aja ya. Pompa aja kali ya ASInya. Berapa lamaaa harus kayak ginii?!

Stress karena cadan super lelah, begadang, sakit payudara, sakit jahitan. Di atas itu semua jangan salah, pekerjaan rumah tetap setia menunggu loh. Jadi bangun mesti tetep pagi, rumah mesti tetep bersih dan wangi, pakaian juga harus dicuci, dan lain-lain.

Belum lagi banyaknya tamu yang datang ke rumah menengok dedek bayi, yang artinya kita harus siap selalu menerima tamu.

Memang sih ada suami yang siap sedia membantu tugas tugas di rumah, ada orang tua yang selalu datang setiap harinya untuk membantu segala hal, tapi tetaplah segala letih masih sangat terasa.

Hal-hal tersebut yang mengganggu psikologis saya sedikit. Ditambah hormon yang masih belum stabil setelah melahirkan membuat saya menjadi sangaaaaaaat apa ya, lemah? Sedih? Stress? Capek? Semuanya betul.

Setiap suami saya hendak berangkat kerja, mata saya langsung berkaca-kaca. “Jangan kerja..”, itu yang selalu saya bilang ke suami. Soalnya saya selalu merasa kuat ketika ada suami. Ketika bayis saya menangis, tak jarang saya ikut nangis pulak. Haha. Bahkan saya selalu rewel Watsap suami saya sepanjang hari, “Pulang jam berapa?”. Atau Whatsapp ibu saya, “Kapan kesini bu?”. Karena saya merasa harus ada temannya. Saya waktu itu merasa gak kuat kalau sendirian. Kalaupun masih sendiri seharian, maka ketika sore saya pasti nangis. hahhaha.

Haduh.. kalau ingat-ingat masa itu tuh rasanyaa.. gak  mau lagi kena baby blues. Moment yang seharusnya membahagiakan malah seperti itu. Makanya saya berpikir bahwa persiapan mental untuk menjadi seorang ibu juga penting.

Saya juga bertekad untuk siap sedia menolong teman atau tetangga yang baru melahirkan. Walaupun hanya sekedar mengirimkan sayur matang, dan gantian menjaga bayi supaya si ibu bisa mandi. Well believe it or not, ketika itu mandi penjadi hal yang paling saya tunggu, dan juga paling susah dilakukan.

Tapi alhamdulillah semuanya sudah terlewati. Setelah dua minggu struggle di rumah sendiri, akhirnya saya minta izin suami untuk diizinkan pulang ke rumah orang tua saja ketika suami pergi kerja (karena sedang masa cuti dari konveksi hehehe). Alhamdulillah suami pun gak tega lihat saya nangis-nangis minta pulang, jadi mulai saat itu setiap pagi saya di drop di rumah orang tua saya dan malamnya dijemput lagi oleh suami. Di rumah orang tua saya bisa sedikit tidur siang, mandi bisa lebih lama, dan belajar menjadi ibu dengan psikologis yang lebih stabil.

Saya bukannya tidak senang loh dengan punya anak. Seneeeeeng banget banget punya anak. Tapi ya itu, prosesnya ternyata seperti itu. Lagi-lagi itu mungkin kesalahan saya juga yang gak prepared, dan pengaruh hormon. Jadi semua curhatan saya ketika baby blues itu bukan karena Maryam. No. Maryam adalah karunia terindah dari Allah and I love her so much.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya khususnya untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Untuk menyiapkan diri jika kelak Maryam punya adik. Eh. hehehe.

But anyway, Alhamdulillah wa syukurillah tiada terkira kepada Allah atas segalanya. Karena kalau Allah tidak bilang “kun” maka tidak terjadi semuanya. Kalau Allah tidak ridho juga tidak terjadi semuanya. Thanks God, I love you :’)

After-Married Life

Begini, pertama secara umum menikah dan belum menikah berbeda. Well, sangat berbeda. Sangat, sangat, sangat berbeda.

Jika kalian mendengar kabar seorang teman akan menikah, bahagiakah kalian? Ya dong karena itu berita yang membahagiakan. Sama, saya juga. Kecuali satu dan berbagai macam alasan yang tidak disyariatkan agama, membuat menikah menjadi hal yang tidak membahagiakan.

Oke sekarang kita generalisasikan menikah menjadi hal yang sangat membahagiakan. Setuju? 😀

Kedua, kehidupan sesorang sebelum dan sesudah menikah juga sangat berbeda. Secara umum. Kalau sebelum menikah saya hanya memiliki dua orang tua, dua adik, dan beberapa belas orang keluarga besar, setelah menikah jumlah keluarga saya menjadi double banyaknya. Orang tua saya menjadi empat, adik saya juga kebetulan menjadi 4, dan keluarga besar saya pun menjadi beberapa puluh! Wah..

Kalau sebelum menikah waktu luang ketika weekend dan hari libur diisi dengan berkumpul bersama keluarga, hang out bareng teman-teman, kegiatan sosial di Rumah Merah Putih, atau kegiatan-kegiatan lain yang menyenangkan dan bermanfaat. Setelah menikah maka waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan itu juga menjadi dua kali lipatnya.

Prioritas utama sekarang setelah menikah bukan lagi berkumpul main-main bersama teman-teman, bahkan Rumah Merah Putih bukan lagi menjadi salah satu prioritas yang saya utamakan. Setelah menikah saya dan suami harus pintar-pintar membagi waktu untuk berkunjung dan bersilaturrahim ke rumah orang tua kami. Jika misalnya Sabtu saya berada di rumah orang tua saya, Minggu saya jadwalkan untuk datang ke rumah mertua.

Kami juga harus pintar membagi waktu untuk kami berdua. Hehe. Our time. Our time bagi kami itu bukan sekedar makan bersama, istirahat bersama setelah seharian beraktifitas, dan lain-lain. Our time bagi kami kadang melakukan berbagai kegiatan berdua, seharian! Well, walaupun itu cuma sekedar bersih-bersih rumah dari depan sampai belakang dari pagi sampai siang, it’s worth it untuk menyeimbangkan minggu kami.

Tapiii, setelah berbagai hal di atas, bukan juga waktu saya menjadi semakin terbatas untuk sekedar bertemu teman-teman, atau bahkan berkunjung ke aktifitas Rumah Merah Putih. Saya masih sempat kok datang untuk ikut meeting RMP, mengajar dan bertemu dengan adik-adik imut dan kakak-kakak menggemaskan. Bahkan bertemu dengan komunitas lain untuk sekedar sharing juga masih sempat.

Di lain hal, saya juga masih bisa loh untuk haha-hihi besama teman-teman lama, bahkan sampai menginap juga masih bisa! hihihihihi.

Jadi, sebenarnya menikah itu tidak menjadi pembatas untuk kita terutama perempuan berkegiatan. Semuanya masih bisa dilakukan, hanya frekuensi nya saja yang beda. Prioritasnya saja yang sudah berubah. Asal didiskusikan dengan suami dan yang terpenting diizinkan, ya monggo!

Kenapa saya tulis begini.. Karena mungkin ada beberapa orang yang terlalu dekat dengan sahabatnya, yang mungkin (lagi) merasa sedih karena setelah sahabatnya menikah kok rasanya beda? Kok sahabat malah jadi jauh? Kok sahabat susah diajakkin ketemuan lagi? Kok sahabat malah begini? Kok malah begitu? Dan banyak Kok-kok yang lainnya. Dan mungkin.. semuanya akan menjadi “oooh iya ya” ketika si dia yang belum menikah, akhirnya menikah dan merasakan hal yang sama dengan sahabatnya. Hehe. Panjang ya..

Dan kenapa juga saya jelaskan panjang lebar.. Karena saya juga ingin menjawab sebagian “kok-kok” orang yang bertanya-tanya. Bahwa, hei! Kami yang sudah menikah bukan berubah. Hei, kami  masih sama. Hei, kami juga rindu! Hei! Hei! Hei!. Dan hei yang lain.

Intinya, tidak ada yang berubah dari saya terutama. Hehe. Kalau ada yang merasa saya berubah, ya monggo silahkan tegur dengan cara yang baik. Karena cara yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Insya Allah 🙂

Well, let’s live life then give life! *gak nyambung* hehehe

hujan November..

when rain starts to fall..
when rain starts to fall..

Halo November.. Sudah satu tahun kita tidak bertemu. Hujan November pun sudah satu tahun tidak menyapa..

Tahun lalu, kau datang bersama dengan debaran hati yang menggebu.. menanti tanggal dan hari berikutnya. Oh tidak, bahkan aku berdebar hanya untuk menanti detik dan menit berikutnya..

Hujan pun mulai datang bersahutan dengan petir.. Hujan datang banyak. Banyak sekali. Aku dan hatiku menjadi sedikit khawatir. Hujan mungkin akan ikut datang mengiringi kebahagiaanku nanti? Ah.. saat itu, aku harap hujan hanya datang sebelumnya saja.

Hujan, kau selalu datang membawa keberkahan. Seperti kata Tuhan, do’a siapa yang akan tertolak ketika hujan? Tuhan pun membuka pintu-pintu harapan ketika kau turun.

Hujan, tahun lalu kau datang bersama dengan berbagai keberkahan. Padaku. Pada keluargaku. Padanya. Pada keluarganya. Pada kami. Hujan, ridho-Nya telah mengaliri semua berkah kala itu.

Hujan, tahun lalu aku hanya menikmatinya sendiri saja dari jendela kamar yang gelap. Dinginnya pun hanya bisa kurasakan sendiri.. Tapi kau selalu bisa membawa senyum bersama dengan air-air yang turun.

Hujan, tahun lalu kau tetap turun ketika hatiku tak lagi separuh. Kau tidak pernah nampak cemburu. Bahkan kau berbahagia, memberikan kami kesempatan lebih banyak lagi untuk berdo’a dan bersyukur atas genapnya hati kami.

Hujan, tahun lalu lengkap lah kebahagiaan kami. Alhamdulillah.

November kembali menyapa. Dengan mataharinya yang sayup-sayup bersinar ketika pagi. Dengan semilir anginnya yang lembut menyentuh kulit. Dan dengan kau kembali turun di sore hari.

Hujan, kau datang lagi. Aku bertanya-tanya. Berkah apalagi yang mengiringi kedatanganmu kali ini? Aku senang sekali. Kau datang lagi.

Hujan, tahukah kau? Bukan aku saja yang menantimu. Hampir semua orang di sini menantimu. Tanah hampir-hampir kehabisan stok air peninggalanmu setahun lalu, Hujan.

Hujan, selalu ada senyum yang muncul ketika kau turun. Pintu-pintu harapan kembali terbuka lebar. Allah siap mendengar dan mengabulkan do’a kami bersamaan dengan tetesan air yang jatuh ke bumi.

Hujan, tahun ini kami berdo’a kepada Allah. Kami sangat senang akan genapnya hati kami. Setengah menjadi satu. Tapi satu belumlah bisa memenuhi ruang hati kami. Hujan, kau turun. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan kepada kami berkah yang sangat kami nantikan. Kami berdo’a, Allah ridho menitipkan hak-Nya kepada kami. Hujan, kami berdo’a semoga di mata Allah, kami sudah pantas mendapatkan titipan itu.

Hujan, semoga do’a kami sampai ke pintu-pintu harapan yang tengah terbuka ketika kau turun. Semoga Allah ridho mengabulkannya. Menggenapan hati yang sudah genap, hingga memenuhi ruang hati kami yang rindu. Ya, Hujan, kami rindu. Kami rindu padamu, Hujan. Pada-Nya. Dan pada titipan-Nya.

Hujan, datanglah.. Aku ingin berdo’a..